Perkuat Fondasi Gerakan, Ustadz Asmu’i Kupas Tuntas Aqidah, Akhlaq, dan Ibadah di Pos Ronda #7 PCPM Kandangan

KANDANGAN – Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kandangan kembali menggelar agenda rutin diskusi santai bertajuk “Pos Ronda #7” pada Sabtu malam, 20 Desember 2025. Bertempat di kediaman Saudara Aji Jati, suasana dingin khas Kandangan berubah menjadi hangat dengan kehadiran puluhan kader muda yang antusias mengikuti diskusi bertema penguatan ideologi organisasi.

Berbeda dengan kajian formal di masjid, Pos Ronda kali ini tetap mempertahankan karakteristiknya yang inklusif: Rembugan & Ngopi, Bareng Pemuda. Sambil menikmati kopi hangat dan kudapan tradisional, para kader menyimak paparan materi inti yang disampaikan oleh Ustaz Asmu’i, S.Pd. Beliau membedah pentingnya penerapan konsep Aqidah, Akhlaq, dan Ibadah sebagai napas utama dalam berorganisasi di lingkungan Muhammadiyah.

Aqidah sebagai Akar Perjuangan

Dalam pembukaannya, Ustaz Asmu’i menekankan bahwa organisasi bagi kader Muhammadiyah bukanlah sekadar perkumpulan sosial atau tempat mencari eksistensi. Organisasi adalah ladang dakwah yang harus didasari oleh aqidah yang lurus.

“Aqidah adalah fondasi. Jika akarnya kuat, maka pohon organisasi ini tidak akan roboh diterjang angin fitnah atau ujian zaman,” ujar Ustaz Asmu’i di hadapan para jamaah yang duduk lesehan. Beliau menjelaskan bahwa setiap langkah di PCPM maupun KOKAM harus diniatkan murni karena Allah SWT (Ikhlasunniyah). Tanpa aqidah yang benar, semangat berorganisasi akan mudah luntur saat menghadapi gesekan internal maupun tantangan eksternal.

Beliau juga mengingatkan agar para pemuda menjauhi sifat syirik dalam berorganisasi, yakni menggantungkan harapan atau tujuan gerakan kepada selain Allah, seperti hanya mengejar materi atau jabatan semata.

Akhlaq: Etika dalam Ber-Muhammadiyah

Melangkah ke poin kedua, Ustaz Asmu’i menyoroti aspek Akhlaq. Menurutnya, kepandaian berorganisasi tidak ada gunanya jika tidak dibarengi dengan budi pekerti yang luhur. Akhlaq dalam organisasi manifestasinya adalah bagaimana seorang pimpinan menghargai anggotanya, dan bagaimana anggota memberikan loyalitas serta masukan yang santun kepada pimpinan.

“Pemuda Muhammadiyah harus menjadi cermin akhlaqul karimah di tengah masyarakat. Cara kita berkomunikasi di grup WhatsApp, cara kita berdiskusi di forum, hingga cara kita bersikap di media sosial, semuanya harus mencerminkan nilai-nilai Islam,” tegasnya.

Beliau menambahkan bahwa dalam berorganisasi, perbedaan pendapat adalah hal lumrah. Namun, akhlaq-lah yang menjaga agar perbedaan tersebut tidak berubah menjadi perpecahan. Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) harus dilakukan dengan cara yang baik pula (Ma’ruf).

Ibadah: Menjadikan Organisasi sebagai Sajadah Panjang

Poin terakhir yang ditekankan adalah konsep Ibadah. Ustaz Asmu’i meluruskan persepsi bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada shalat dan puasa (ibadah mahdhah). Aktivitas organisasi seperti bakti sosial, pengamanan kegiatan oleh KOKAM, hingga mengelola unit usaha seperti air minum “Segarmu”, semuanya adalah ibadah ghairu mahdhah jika dilakukan dengan tata cara yang benar dan niat yang tulus.

“Jangan pernah merasa lelah mengurus organisasi, karena setiap menit yang kita habiskan untuk memikirkan umat, setiap tetes keringat saat menjalankan program, itu tercatat sebagai amal jariyah. Jadikan PCPM ini sebagai sajadah panjang kita untuk bersujud kepada Allah melalui pengabdian,” tambahnya yang disambut anggukan mantap dari para peserta.

Dialog Hangat di Bawah Langit Kandangan

Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB ini berlangsung sangat interaktif. Sesuai dengan tagline di poster, “Tukar Kawruh & Info-info”, sesi tanya jawab dipenuhi dengan diskusi mengenai problematika pemuda masa kini, mulai dari tantangan ekonomi hingga cara menjaga konsistensi (istiqamah) dalam berdakwah.

Kegiatan “Pos Ronda” sendiri memang didesain oleh PCPM Kandangan sebagai medium dakwah kultural. Dengan suasana yang santai, bahkan diselingi tradisi nglinting dan jagongan, sekat-sekat formalitas antara senior dan yunior lebur. Hal ini terbukti efektif menarik minat pemuda di tingkat ranting untuk lebih aktif berkontribusi.

Tuan rumah sekaligus kader PCPM, Aji Jati, mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara ini. “Kami ingin menunjukkan bahwa belajar agama dan berorganisasi itu tidak harus kaku. Di Pos Ronda ini, kita bisa bicara serius tentang masa depan umat, tapi tetap dengan rasa kekeluargaan yang erat,” ujarnya.

Acara berakhir menjelang tengah malam, namun semangat para kader tampak semakin membara. Melalui penguatan Aqidah, Akhlaq, dan Ibadah yang disampaikan Ustaz Asmu’i, PCPM Kandangan diharapkan semakin solid dalam menyongsong agenda-agenda besar di tahun 2026 mendatang, termasuk penguatan ekonomi produktif dan pemberdayaan pemuda di pelosok desa.

Tags

Posting Komentar

[blogger]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.