Articles by "Tabligh"

Tampilkan postingan dengan label Tabligh. Tampilkan semua postingan

KANDANGAN, 28 Februari 2026 – Semangat syiar Islam dan penguatan organisasi di tingkat akar rumput kembali ditunjukkan oleh Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kandangan. Pada Sabtu malam, 28 Februari 2026, suasana khidmat namun penuh kehangatan menyelimuti Dusun Diwak, Desa Baledu, Kecamatan Kandangan. Di sana, tepatnya di Masjid Al Huda, telah dilaksanakan agenda rutin “Tarawih Keliling” (Tarling) edisi kedua yang dirangkaikan dengan Kajian Pemuda.

Acara yang dimulai tepat pukul 18.30 WIB ini bukan sekadar rutinitas ibadah formal, melainkan momentum penting untuk mengonsolidasi semangat pemuda dan mempererat silaturahmi dengan warga sekitar. Tercatat, kurang lebih 70 jamaah memadati ruang utama masjid, menciptakan pemandangan harmonis yang mempertemukan lintas generasi dan lintas organisasi.

Sinergi Pemuda, Nasyiah, dan Warga Lokal

Kehadiran jamaah dalam Tarling #2 ini mencerminkan inklusivitas gerakan Muhammadiyah di Kandangan. Selain jajaran pengurus PCPM Kandangan, acara ini juga dihadiri oleh kader-kader Nasyiatul Aisyiyah (NA) yang memberikan warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Sinergi antara organisasi otonom Muhammadiyah ini menunjukkan bahwa gerakan dakwah di wilayah Kandangan berjalan secara beriringan dan solid.

Tidak hanya dihadiri oleh aktivis organisasi, warga lingkungan sekitar Masjid Al Huda juga turut menyambut baik kegiatan ini. Kehadiran para tokoh masyarakat dan jamaah setempat memberikan makna bahwa dakwah pemuda harus mampu menyentuh langsung ke jantung masyarakat. Interaksi yang terjadi antara pemuda dan para orang tua di sela-sela sholat berjamaah menciptakan atmosfer kekeluargaan yang kental.

Pesan Inspiratif dari Mukhammad Zidanul Akhsan

Puncak acara ditandai dengan penyampaian Kajian Pemuda yang menghadirkan narasumber muda yang kompeten, Mukhammad Zidanul Akhsan, S.Ag. Beliau, yang menjabat di Bidang Dakwah Islam PRPM Malebo, memberikan materi yang sangat relevan dengan tantangan zaman saat ini.

Dalam paparannya, Ustadz Zidanul menekankan pentingnya peran pemuda sebagai lokomotif perubahan di masyarakat, namun tetap harus berakar pada nilai-nilai spiritual yang kuat. Menurutnya, bulan Ramadhan adalah laboratorium terbaik untuk melatih integritas dan kepedulian sosial.

“Pemuda bukan hanya tentang usia, tetapi tentang semangat untuk memberi manfaat. Masjid harus menjadi pusat peradaban bagi pemuda, tempat di mana ide-ide brilian lahir dan di mana kesalehan sosial diasah,” ujar Zidanul di hadapan para jamaah yang menyimak dengan antusias. Beliau juga mengajak para pemuda untuk tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan masyarakat, tetapi menjadi aktor utama yang membawa solusi bagi permasalahan lingkungan sekitar.

Tarling Sebagai Media Dakwah dan Konsolidasi

Program Tarling #2 ini merupakan bagian dari rangkaian perjalanan dakwah PCPM Kandangan selama bulan suci. Menurut perwakilan panitia, kegiatan ini dirancang untuk memastikan bahwa gerak organisasi tidak hanya berpusat di kantor cabang, tetapi turun langsung menyapa jamaah di masjid-masjid di pelosok desa.

“Kami ingin membawa pesan bahwa Pemuda Muhammadiyah ada dan hadir di tengah-tengah masyarakat. Melalui Tarling ini, kami bisa mendengar langsung aspirasi warga sekaligus memperkuat jaringan komunikasi antarkader,” ungkap salah satu pengurus PCPM di sela-sela acara.

Suasana Masjid Al Huda yang sederhana namun tertata rapi menambah kekhusyukan acara. Setelah rangkaian sholat tarawih berjamaah dan kajian selesai, acara dilanjutkan dengan sesi ramah tamah singkat. Di sinilah dialog santai antara pengurus PCPM, kader NA, dan warga terjadi, membahas berbagai hal mulai dari program kepemudaan hingga isu-isu sosial di lingkungan setempat.

Kesan Warga dan Harapan ke Depan

Warga Dusun Diwak menyambut positif inisiatif ini. Salah satu tokoh warga menyatakan rasa bangganya melihat anak-anak muda yang aktif dalam kegiatan keagamaan. “Kehadiran adik-adik dari PCPM dan NA di Masjid Al Huda ini memberikan energi positif bagi kami. Kami berharap kegiatan seperti ini tidak hanya berhenti di sini, tapi terus berkelanjutan untuk memotivasi pemuda-pemuda desa kami agar lebih giat ke masjid,” tuturnya.

Dengan partisipasi sekitar 70 jamaah, acara ini dinilai sukses melampaui ekspektasi panitia dalam hal antusiasme. Keberhasilan Tarling #2 ini menjadi pemacu semangat bagi PCPM Kandangan untuk terus melanjutkan estafet dakwah pada edisi-edisi Tarling berikutnya.

Melalui kegiatan ini, PCPM Kandangan kembali membuktikan bahwa dakwah Islam yang berkemajuan dapat dilakukan dengan cara-cara yang merakyat, santun, dan penuh inspirasi. Semangat dari Masjid Al Huda ini diharapkan terus menjalar, membangkitkan gairah ber-Muhammadiyah dan ber-Islam yang mencerahkan di seluruh pelosok Kandangan.

KANDANGAN, TEMANGGUNG – Suasana khidmat menyelimuti Dusun Malebo Kulon, Desa Kandangan, pada Sabtu malam (21/02/2026). Cahaya lampu Masjid Ar Rahmah tampak lebih terang dari biasanya, menyambut puluhan jamaah yang hadir dengan antusiasme tinggi. Malam itu, Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kandangan resmi meluncurkan putaran pertama kegiatan Tarawih Keliling (Tarling) yang dirangkai dengan Kajian Pemuda.

Acara perdana ini bukan sekadar rutinitas ibadah formal, melainkan menjadi ajang silaturahmi lintas generasi dan organisasi. Berdasarkan pantauan di lokasi, jamaah yang hadir terdiri dari berbagai unsur strategis Muhammadiyah. Nampak baret-baret gagah dari Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) yang berjaga sekaligus ikut mengaji, kader-kader Nasyiatul Aisyiyah (NA) yang penuh semangat, jajaran Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Malebo, hingga masyarakat umum yang memadati shaf masjid.

Sinergi Pemuda dan Masyarakat

Ketua PCPM Kandangan dalam sambutannya menekankan bahwa Tarling #1 ini bertujuan untuk mempererat ukhuwah islamiyah di wilayah Kandangan. “Kami ingin menghidupkan syiar Islam di pelosok-pelosok desa melalui semangat kepemudaan. Kehadiran KOKAM, NA, dan dukungan dari orang tua kami di PRM Malebo adalah bukti bahwa dakwah ini adalah milik kita bersama,” ujarnya.

Setelah pelaksanaan shalat tarawih berjamaah, acara dilanjutkan dengan inti kegiatan, yaitu Kajian Pemuda. Hadir sebagai narasumber utama adalah Ustaz Ja’far Shodiq, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Temanggung. Dengan gaya penyampaian yang lugas namun berbobot, beliau membawakan tema sentral: “Napak Tilas Sejarah Disyariatkannya Puasa Ramadhan.”

Menelusuri Jejak Kenabian

Ustaz Ja’far Shodiq mengawali tausiyahnya dengan mengajak jamaah menarik garis waktu ke masa kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau memaparkan bahwa pemahaman tentang ibadah puasa tidak bisa dilepaskan dari perjalanan hidup sang pembawa risalah.

“Kita harus memahami bahwa Islam tidak turun secara instan. Ada proses panjang sejak kelahiran Nabi di tahun Gajah, hingga beliau menerima wahyu pertama di Gua Hira pada usia 40 tahun,” urai Ustaz Ja’far. Beliau menjelaskan bahwa selama 13 tahun di Makkah, fokus utama dakwah adalah penanaman akidah (tauhid). Pada masa itu, belum ada perintah untuk melaksanakan puasa Ramadhan seperti yang kita kenal sekarang.

Transformasi besar terjadi saat peristiwa Hijrah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Di Madinah, Islam mulai menata tatanan sosial dan hukum. Ustaz Ja’far menekankan bahwa Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan momentum pemisahan antara yang hak dan yang batil, serta titik awal penguatan identitas umat melalui berbagai syariat, termasuk puasa.

Detik-Detik Turunnya Syariat Puasa

Memasuki poin utama, Ustaz Ja’far menjelaskan secara rinci kapan dan bagaimana puasa Ramadhan mulai diwajibkan. “Puasa Ramadhan baru disyariatkan pada tahun kedua Hijriah. Tepatnya pada bulan Sya’ban, melalui turunnya firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183,” jelasnya di hadapan jamaah yang menyimak dengan saksama.

Beliau memaparkan fakta sejarah bahwa sebelum kewajiban puasa Ramadhan turun, Rasulullah SAW dan para sahabat sebenarnya sudah terbiasa menjalankan puasa, namun sifatnya berbeda, seperti puasa hari Asyura. Namun, seiring dengan diperlukannya penguatan mental dan spiritual bagi kaum muslimin yang saat itu tengah menghadapi berbagai tantangan besar di Madinah—termasuk persiapan menjelang Perang Badar—maka Allah menurunkan kewajiban puasa satu bulan penuh.

“Syariat ini turun untuk membentuk ketakwaan yang tangguh. Bayangkan, para sahabat diwajibkan berpuasa di tengah kondisi cuaca yang ekstrem dan tekanan politik yang tinggi. Ini adalah pelajaran bagi pemuda zaman sekarang: bahwa ibadah adalah sarana latihan kedisiplinan dan kekuatan mental,” tegas Ustaz Ja’far.

Relevansi Bagi Pemuda Masa Kini

Kajian yang berlangsung selama kurang lebih satu jam tersebut ditutup dengan pesan mendalam bagi para kader PCPM, KOKAM, dan NA. Ustaz Ja’far mengingatkan bahwa memahami sejarah syariat akan membuat seorang mukmin lebih menghargai setiap tetes keringat dan rasa lapar yang dirasakan saat berpuasa.

“Jangan sampai puasa kita hanya menjadi rutinitas menahan lapar. Ingatlah sejarahnya, ingatlah perjuangan Rasulullah saat menerima perintah ini. Dengan begitu, kualitas takwa kita akan meningkat,” pungkasnya.

Acara Tarling #1 ini diakhiri dengan ramah tamah dan diskusi santai antara pemuda dan tokoh masyarakat. Keberhasilan acara di Masjid Ar Rahmah ini diharapkan menjadi pematik semangat untuk putaran Tarling selanjutnya di wilayah Kandangan lainnya. Dengan kolaborasi yang solid antara unsur pemuda dan masyarakat, dakwah Muhammadiyah di Kandangan dipastikan akan terus tumbuh dan memberikan manfaat nyata bagi umat.

KANDANGAN, TEMANGGUNG – Suasana pagi di kaki gunung daerah Kandangan terasa lebih hangat dari biasanya pada Ahad Pon, 11 Januari 2026. Ratusan jamaah, yang didominasi oleh warga lanjut usia (lansia) dan kader muda Muhammadiyah, berbondong-bondong memadati Masjid Nurul Iman, Punduhan, Kandangan. Mereka hadir untuk mengikuti agenda rutin yang kali ini dikemas secara istimewa: Kajian Ahad Pagi PCM Kandangan Edisi Spesial.

Kajian kali ini menarik perhatian besar karena menghadirkan narasumber ahli, yaitu Ustaz dr. Fatnan Setyo Hariwibowo, Sp.PD, MARS, AIFO-K FINASIM. Beliau adalah Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari RS PKU Muhammadiyah Temanggung yang juga dikenal aktif dalam dakwah kesehatan. Mengusung tema yang sangat relevan dengan kebutuhan jamaah, yakni “Pencernaan Sehat, Lansia Sehat”, kajian ini bertujuan memberikan edukasi komprehensif mengenai pentingnya menjaga saluran cerna demi kualitas hidup yang lebih baik di masa tua.

Sinergi Dakwah dan Kesehatan

Acara yang dimulai tepat pukul 06.00 WIB ini dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan sambutan dari jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan. Dalam sambutannya, perwakilan PCM menekankan bahwa Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada kesehatan spiritual melalui pengajian, tetapi juga sangat memperhatikan kesehatan fisik jamaahnya.

“Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Itulah mengapa hari ini kita hadirkan pakar penyakit dalam untuk membimbing kita bagaimana menjaga ‘mesin’ tubuh kita agar tetap prima di usia senja,” ujar salah satu pengurus PCM Kandangan.

Intisari Kajian: Pencernaan sebagai Kunci Imunitas

Dalam paparannya, dr. Fatnan menjelaskan bahwa sistem pencernaan seringkali disebut sebagai “otak kedua” manusia. Bagi lansia, sistem pencernaan mengalami penurunan fungsi secara alami, mulai dari kekuatan mengunyah, produksi asam lambung, hingga pergerakan usus (peristaltik) yang melambat.

“Masalah yang sering dianggap sepele oleh lansia, seperti sembelit (konstipasi) atau perut kembung, sebenarnya adalah sinyal bahwa ada yang tidak beres dengan pola hidup. Jika pencernaan tidak sehat, penyerapan nutrisi terganggu. Akibatnya, daya tahan tubuh menurun, dan penyakit kronis lainnya mudah masuk,” jelas dr. Fatnan di hadapan jamaah yang menyimak dengan antusias.

Beliau membagikan beberapa tips praktis bagi para lansia agar pencernaan tetap sehat:

  • Cukupi Kebutuhan Serat dan Air Putih: Serat dari sayur dan buah sangat penting untuk membantu kerja usus yang mulai melambat.
  • Kunyah Makanan dengan Sempurna: Mengingat produksi enzim pencernaan berkurang, proses penghancuran makanan di mulut menjadi krusial.
  • Aktivitas Fisik Ringan: Sesuai keahliannya di bidang AIFO-K (Ahli Ilmu Faal Olahraga), dr. Fatnan menyarankan jalan pagi rutin untuk merangsang gerak usus secara alami.
  • Menjaga Kesehatan Mental: Stres dan kecemasan seringkali bermanifestasi pada gangguan lambung (psikosomatik).

Antusiasme dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Keistimewaan kajian edisi ini tidak berhenti pada penyampaian materi. Di sisi luar masjid, RS PKU Muhammadiyah Temanggung telah menyiagakan tim medis untuk memberikan layanan Cek Kesehatan Gratis. Layanan ini meliputi pemeriksaan tekanan darah, cek gula darah, dan konsultasi kesehatan singkat.

Meskipun kuota terbatas, antrean jamaah tampak tertib. Banyak jamaah yang memanfaatkan momen ini untuk berkonsultasi langsung mengenai keluhan kesehatan mereka setelah mendengarkan kajian. Sinergi antara edukasi lisan dan layanan medis nyata ini mendapatkan apresiasi tinggi dari warga.

“Saya jadi tahu kalau selama ini kurang minum air putih itu yang bikin perut sering begah. Tadi juga sudah cek tensi, alhamdulillah normal,” kata Bapak Sumardi (68), salah satu jamaah asal Punduhan.

Harapan Masa Depan

Kajian yang berakhir pada pukul 07.30 WIB ini ditutup dengan doa bersama. Melalui kegiatan ini, Muhammadiyah Kandangan berharap dapat mencetak generasi lansia yang mandiri, sehat secara fisik, dan kuat secara spiritual (Lansia Tangguh).

Keterlibatan aktif media komunitas seperti Suara Pemuda dan publikasi masif di kanal media sosial Muhammadiyah Kandangan menunjukkan bahwa dakwah berkemajuan harus mampu memanfaatkan teknologi untuk menjangkau masyarakat lebih luas.

Dengan suksesnya acara ini, PCM Kandangan berkomitmen untuk terus menghadirkan tema-tema edukatif lainnya yang menyentuh langsung aspek kehidupan sehari-hari masyarakat, membuktikan bahwa masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi juga pusat peradaban dan kesehatan umat.

KANDANGAN – Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kandangan kembali menggelar agenda rutin diskusi santai bertajuk “Pos Ronda #7” pada Sabtu malam, 20 Desember 2025. Bertempat di kediaman Saudara Aji Jati, suasana dingin khas Kandangan berubah menjadi hangat dengan kehadiran puluhan kader muda yang antusias mengikuti diskusi bertema penguatan ideologi organisasi.

Berbeda dengan kajian formal di masjid, Pos Ronda kali ini tetap mempertahankan karakteristiknya yang inklusif: Rembugan & Ngopi, Bareng Pemuda. Sambil menikmati kopi hangat dan kudapan tradisional, para kader menyimak paparan materi inti yang disampaikan oleh Ustaz Asmu’i, S.Pd. Beliau membedah pentingnya penerapan konsep Aqidah, Akhlaq, dan Ibadah sebagai napas utama dalam berorganisasi di lingkungan Muhammadiyah.

Aqidah sebagai Akar Perjuangan

Dalam pembukaannya, Ustaz Asmu’i menekankan bahwa organisasi bagi kader Muhammadiyah bukanlah sekadar perkumpulan sosial atau tempat mencari eksistensi. Organisasi adalah ladang dakwah yang harus didasari oleh aqidah yang lurus.

“Aqidah adalah fondasi. Jika akarnya kuat, maka pohon organisasi ini tidak akan roboh diterjang angin fitnah atau ujian zaman,” ujar Ustaz Asmu’i di hadapan para jamaah yang duduk lesehan. Beliau menjelaskan bahwa setiap langkah di PCPM maupun KOKAM harus diniatkan murni karena Allah SWT (Ikhlasunniyah). Tanpa aqidah yang benar, semangat berorganisasi akan mudah luntur saat menghadapi gesekan internal maupun tantangan eksternal.

Beliau juga mengingatkan agar para pemuda menjauhi sifat syirik dalam berorganisasi, yakni menggantungkan harapan atau tujuan gerakan kepada selain Allah, seperti hanya mengejar materi atau jabatan semata.

Akhlaq: Etika dalam Ber-Muhammadiyah

Melangkah ke poin kedua, Ustaz Asmu’i menyoroti aspek Akhlaq. Menurutnya, kepandaian berorganisasi tidak ada gunanya jika tidak dibarengi dengan budi pekerti yang luhur. Akhlaq dalam organisasi manifestasinya adalah bagaimana seorang pimpinan menghargai anggotanya, dan bagaimana anggota memberikan loyalitas serta masukan yang santun kepada pimpinan.

“Pemuda Muhammadiyah harus menjadi cermin akhlaqul karimah di tengah masyarakat. Cara kita berkomunikasi di grup WhatsApp, cara kita berdiskusi di forum, hingga cara kita bersikap di media sosial, semuanya harus mencerminkan nilai-nilai Islam,” tegasnya.

Beliau menambahkan bahwa dalam berorganisasi, perbedaan pendapat adalah hal lumrah. Namun, akhlaq-lah yang menjaga agar perbedaan tersebut tidak berubah menjadi perpecahan. Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) harus dilakukan dengan cara yang baik pula (Ma’ruf).

Ibadah: Menjadikan Organisasi sebagai Sajadah Panjang

Poin terakhir yang ditekankan adalah konsep Ibadah. Ustaz Asmu’i meluruskan persepsi bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada shalat dan puasa (ibadah mahdhah). Aktivitas organisasi seperti bakti sosial, pengamanan kegiatan oleh KOKAM, hingga mengelola unit usaha seperti air minum “Segarmu”, semuanya adalah ibadah ghairu mahdhah jika dilakukan dengan tata cara yang benar dan niat yang tulus.

“Jangan pernah merasa lelah mengurus organisasi, karena setiap menit yang kita habiskan untuk memikirkan umat, setiap tetes keringat saat menjalankan program, itu tercatat sebagai amal jariyah. Jadikan PCPM ini sebagai sajadah panjang kita untuk bersujud kepada Allah melalui pengabdian,” tambahnya yang disambut anggukan mantap dari para peserta.

Dialog Hangat di Bawah Langit Kandangan

Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB ini berlangsung sangat interaktif. Sesuai dengan tagline di poster, “Tukar Kawruh & Info-info”, sesi tanya jawab dipenuhi dengan diskusi mengenai problematika pemuda masa kini, mulai dari tantangan ekonomi hingga cara menjaga konsistensi (istiqamah) dalam berdakwah.

Kegiatan “Pos Ronda” sendiri memang didesain oleh PCPM Kandangan sebagai medium dakwah kultural. Dengan suasana yang santai, bahkan diselingi tradisi nglinting dan jagongan, sekat-sekat formalitas antara senior dan yunior lebur. Hal ini terbukti efektif menarik minat pemuda di tingkat ranting untuk lebih aktif berkontribusi.

Tuan rumah sekaligus kader PCPM, Aji Jati, mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara ini. “Kami ingin menunjukkan bahwa belajar agama dan berorganisasi itu tidak harus kaku. Di Pos Ronda ini, kita bisa bicara serius tentang masa depan umat, tapi tetap dengan rasa kekeluargaan yang erat,” ujarnya.

Acara berakhir menjelang tengah malam, namun semangat para kader tampak semakin membara. Melalui penguatan Aqidah, Akhlaq, dan Ibadah yang disampaikan Ustaz Asmu’i, PCPM Kandangan diharapkan semakin solid dalam menyongsong agenda-agenda besar di tahun 2026 mendatang, termasuk penguatan ekonomi produktif dan pemberdayaan pemuda di pelosok desa.

Perkuat Fardhu Kifayah dan Regenerasi Pemulasaran Jenazah, PCM Kandangan Utus Kader Muda dalam Pelatihan di RS PKU Muhammadiyah Temanggung

TEMANGGUNG – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan menunjukkan komitmen serius dalam pembinaan umat dan pelayanan sosial kemasyarakatan. Hal ini dibuktikan dengan keikutsertaan aktif PCM Kandangan dalam agenda strategis “Pelatihan Rukti Jenazah” yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit (RS) PKU Muhammadiyah Temanggung. Kegiatan yang berlangsung pada hari Kamis, 20 November 2025 ini, bertempat di Aula RS PKU Muhammadiyah Temanggung, dan dihadiri oleh perwakilan PCM se-Kabupaten Temanggung.


Merespons undangan resmi bernomor 1927/III/RSMT/UND/2025 yang ditandatangani oleh Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Temanggung, dr. Achirudin Timora, Sp.N., MMR., PCM Kandangan mengirimkan dua orang utusan terbaik dari unsur Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM). Pengiriman delegasi muda ini bukan tanpa alasan; ini adalah langkah taktis untuk menjawab tantangan regenerasi dalam hal pelayanan umat, khususnya dalam urusan kematian yang sering kali hanya dikuasai oleh kalangan sepuh.

Urgensi dan Manfaat Kegiatan: Menjaga Kemurnian Syariat

Fokus utama dari partisipasi PCM Kandangan dalam pelatihan ini adalah untuk menyerap ilmu dan keterampilan yang sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Pemulasaran atau rukti jenazah bukan sekadar tradisi, melainkan ibadah yang memiliki aturan main (fiqih) yang ketat. Dalam banyak kasus di masyarakat, proses pengurusan jenazah sering kali bercampur dengan tradisi-tradisi yang tidak memiliki landasan dalil yang kuat (bid’ah) atau bahkan bertentangan dengan prinsip kesehatan.

Melalui pelatihan ini, kedua delegasi AMM Kandangan mendapatkan pemahaman mendalam mengenai tata cara memandikan, mengafani, menyalatkan, hingga menguburkan jenazah sesuai dengan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah. Manfaat dari standarisasi ini sangat krusial. Dengan memiliki kader yang paham ilmu rukti jenazah yang sahih, PCM Kandangan dapat menjamin bahwa pelayanan jenazah di wilayah Kandangan dilakukan dengan cara yang paling ahsan (baik) dan memuliakan si mayit, serta menenangkan keluarga yang ditinggalkan karena yakin prosesnya sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW.

Regenerasi Petugas: Mematahkan Mitos “Tugas Orang Tua”

Salah satu manfaat terbesar yang disasar oleh PCM Kandangan melalui pengiriman dua kader AMM ini adalah aspek regenerasi. Selama ini, stigma yang berkembang di masyarakat adalah bahwa petugas rukti jenazah (modin/kaum) haruslah orang yang sudah tua. Hal ini menyebabkan krisis kaderisasi. Ketika petugas senior berhalangan atau wafat, masyarakat sering kali kebingungan mencari pengganti.

Kehadiran delegasi muda dari Kandangan di Aula RS PKU Muhammadiyah Temanggung hari ini menjadi simbol perubahan. Ilmu Fardhu Kifayah—kewajiban kolektif yang jika tidak dikerjakan oleh sebagian orang maka berdosalah seluruh kampung—kini mulai ditransfer kepada generasi muda. Pemuda Muhammadiyah dan unsur AMM lainnya di Kandangan diharapkan menjadi garda terdepan yang sigap. Manfaat jangka panjangnya adalah ketahanan sosial masyarakat Kandangan; kapan pun ada musibah kematian, kader muda Muhammadiyah siap turun tangan tanpa harus menunggu petugas dari luar desa.

Perspektif Medis dan Keamanan: Nilai Tambah Pelatihan Rumah Sakit

Nilai tambah yang sangat signifikan dari pelatihan yang diadakan oleh institusi kesehatan seperti RS PKU Muhammadiyah Temanggung adalah integrasi antara syariat dan standar kesehatan medis. Delegasi PCM Kandangan tidak hanya belajar aspek ritual, tetapi juga aspek keamanan biologis (biosafety).

Dalam pelatihan ini, peserta dibekali pengetahuan tentang bagaimana menangani jenazah dengan kondisi khusus, misalnya jenazah dengan penyakit menular atau kondisi fisik tertentu akibat kecelakaan. Pengetahuan ini sangat vital bagi relawan di tingkat cabang dan ranting. Manfaatnya adalah perlindungan diri bagi petugas pemulasaran itu sendiri. Kader AMM Kandangan kini memahami pentingnya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan teknik memandikan yang aman agar tidak terjadi penularan penyakit, namun tetap menjaga kehormatan jenazah. Ini adalah kombinasi ilmu agama dan sains yang menjadi ciri khas gerakan Muhammadiyah yang berkemajuan.

Dampak Sosial bagi Masyarakat Kandangan

Partisipasi dua orang utusan AMM ini diharapkan membawa efek bola salju (snowball effect) di wilayah Kandangan. Ilmu yang didapat dari RS PKU Muhammadiyah Temanggung tidak akan berhenti di ruang pelatihan. PCM Kandangan berencana agar kedua kader ini nantinya menjadi instruktur atau fasilitator untuk menularkan ilmu rukti jenazah kepada anggota AMM lainnya, bahkan kepada masyarakat umum di pengajian-pengajian ranting.

Dengan demikian, manfaat kegiatan ini akan dirasakan langsung oleh umat. Keberadaan tim rukti jenazah yang cekatan, berilmu, dan masih muda akan memberikan rasa tenang bagi masyarakat. Dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan nyata) seperti inilah yang menjadi kekuatan Muhammadiyah. Pelayanan terhadap jenazah adalah momen emosional bagi keluarga duka, dan kehadiran kader Muhammadiyah yang membantu dengan profesionalisme dan kelembutan akan menjadi syiar Islam yang sangat menyentuh hati.

Langkah RS PKU Muhammadiyah Temanggung dalam menyelenggarakan acara ini, dan respons cepat PCM Kandangan dengan mengirimkan utusannya, adalah kolaborasi sinergis yang memperkuat ukhuwah dan layanan sosial. Bagi PCM Kandangan, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis semata, melainkan upaya merawat kehidupan sosial-keagamaan masyarakat agar tetap berjalan di atas rel syariat yang murni, aman secara medis, dan berkelanjutan berkat hadirnya kader-kader muda yang kompeten.

Kandangan, Temanggung – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan sukses menggelar acara "Kajian Rutin Ahad Pagi Edisi Spesial" pada hari Ahad Kliwon, 27 Juli 2025. Acara yang memadukan siraman rohani dan pelayanan kesehatan ini disambut dengan antusiasme luar biasa dari masyarakat. Sejak pukul 06.00 WIB, Masjid Nurul Iman di Punduhan, Kandangan, telah dipadati oleh seratusan jamaah dari berbagai usia.

Kegiatan ini menghadirkan penceramah Ustadz dr. Masruri, M.Sc, Sp.A, yang juga merupakan seorang Dokter Spesialis Anak di RS PKU Muhammadiyah Temanggung. Dalam tausiahnya, Ustadz Masruri membawakan materi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, mengaitkan nilai-nilai spiritualitas Islam dengan pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental keluarga, terutama anak-anak. Gaya penyampaiannya yang lugas dan diselingi dengan wawasan medis membuat para jamaah khusyuk mendengarkan.

Daya tarik utama dari edisi spesial kali ini adalah adanya fasilitas "Cek Kesehatan Gratis" yang diselenggarakan bekerja sama dengan tim medis dari RS PKU Temanggung. Layanan ini langsung diserbu jamaah setelah kajian selesai. Terlihat antrean panjang warga yang ingin memeriksa tekanan darah, gula darah, dan mendapatkan konsultasi kesehatan ringan secara cuma-cuma.

Ketua PCM Kandangan menyatakan rasa syukurnya atas keberhasilan acara tersebut. "Alhamdulillah, kami sangat bersyukur melihat antusiasme masyarakat. Ini menunjukkan bahwa kegiatan yang memadukan dakwah dan aksi sosial seperti ini sangat dibutuhkan. Tujuannya tidak hanya untuk mengisi rohani, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi kesehatan jamaah," ujarnya.
Seorang peserta, Ibu Siti Aminah, mengungkapkan apresiasinya. "Acaranya sangat bermanfaat. Selain dapat ilmu dari Ustaz Masruri, kami juga bisa periksa kesehatan gratis. Semoga acara seperti ini bisa rutin diadakan," tuturnya.

Kesuksesan acara ini merupakan buah kerja sama solid antara PCM Kandangan, PC Pemuda Muhammadiyah Kandangan, Takmir Masjid Nurul Iman, dan RS PKU Temanggung, serta didukung oleh sayap pemuda melalui media "SUARA PEMUDA". Acara berakhir sekitar pukul 08.00 WIB, namun layanan kesehatan terus berlanjut hingga seluruh jamaah yang mengantre terlayani. PCM Kandangan berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program inovatif yang menyentuh langsung kebutuhan umat.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.