Geliat Ekonomi Hijau: Pemuda dan KOKAM Kandangan Sulap Lahan Tidur Jadi Kebun Tomat Produktif
KANDANGAN – Di bawah terik matahari yang mulai menyengat di kawasan Kandangan, deru semangat tidak surut dari wajah-wajah muda yang berkumpul di sebuah lahan produktif. Mengenakan seragam loreng khas yang gagah namun tak segan bersimbah peluh, puluhan anggota Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) bersama jajaran Pemuda Muhammadiyah Kandangan tampak sibuk bergelut dengan tanah.
Bukan sedang melakukan simulasi pengamanan atau latihan fisik militer, kali ini “senjata” yang mereka pegang adalah cangkul, mulsa, dan ribuan bibit tomat siap tanam. Kegiatan ini menandai langkah konkret organisasi dalam mewujudkan kemandirian ekonomi melalui sektor agribisnis.
Menanam Benih Kemandirian
Gerakan menanam tomat ini bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang. Bagi Pemuda Muhammadiyah Kandangan, lahan yang mereka kelola adalah laboratorium kewirausahaan. Selama ini, organisasi seringkali bergantung pada iuran anggota atau bantuan eksternal untuk menjalankan program kerja. Kini, paradigma itu mulai bergeser.
Ketua Pemuda Muhammadiyah setempat menegaskan bahwa sektor ekonomi harus menjadi pilar utama jika organisasi ingin tetap relevan dan berdaya ledak tinggi.
“Kami ingin membuktikan bahwa Pemuda dan KOKAM tidak hanya pandai berbaris atau menjaga keamanan acara saja. Kami juga harus pandai membaca peluang pasar dan mengelola aset bumi. Menanam tomat adalah langkah awal kami menuju kemandirian finansial organisasi,” ujarnya di sela-sela penanaman.
Mengapa Tomat?
Pemilihan komoditas tomat bukanlah tanpa alasan yang matang. Melalui riset kecil-kecilan dan diskusi dengan praktisi pertanian lokal, tomat dipilih karena beberapa faktor strategis:
- Masa Panen yang Relatif Cepat: Tomat hanya membutuhkan waktu sekitar 60-90 hari untuk mulai panen, sehingga perputaran modal organisasi bisa berjalan lebih dinamis.
- Permintaan Pasar Tinggi: Sebagai kebutuhan dapur pokok, serapan pasar di wilayah Kandangan dan sekitarnya tergolong stabil.
- Pemanfaatan Lahan Optimasi: Karakteristik lahan yang dikelola sangat cocok dengan varietas tomat yang dipilih, yang memiliki daya tahan kuat terhadap hama lokal.
Sinergi KOKAM: Dari Keamanan ke Ketahanan Pangan
Keterlibatan KOKAM dalam aksi ini memberikan warna tersendiri. KOKAM yang selama ini dikenal sebagai garda terdepan dalam urusan kemanusiaan dan kebencanaan, kini menunjukkan sisi humanis dan produktifnya di bidang ketahanan pangan.
Instruksi untuk terjun ke sawah ini disambut antusias. Anggota KOKAM tidak hanya menyumbangkan tenaga kasar, tetapi juga terlibat dalam sistem manajemen pengairan dan penjagaan lahan dari gangguan hama maupun faktor eksternal lainnya. Ini adalah bentuk implementasi dari profil kader yang tangguh secara fisik, namun juga cerdas secara ekonomi.
Harapan Besar di Sektor Wirausaha
Output yang diharapkan dari proyek ini sangat jelas: Profitabilitas yang berkelanjutan. Hasil penjualan panen tomat nantinya akan masuk ke dalam kas bidang ekonomi dan kewirausahaan. Dana tersebut diproyeksikan untuk membiayai kegiatan dakwah, pelatihan kepemimpinan, hingga pemberian beasiswa bagi kader yang membutuhkan.
Lebih dari sekadar uang, kegiatan ini adalah sarana edukasi on-the-job training bagi para pemuda. Mereka belajar tentang:
- Manajemen Risiko: Bagaimana menghadapi cuaca yang tidak menentu.
- Analisis Biaya: Menghitung modal bibit, pupuk, hingga proyeksi keuntungan.
- Pemasaran: Bagaimana membangun jejaring dengan tengkulak maupun pasar retail modern secara mandiri.
Langkah Menuju Masa Depan
Jika proyek percontohan (pilot project) ini berhasil, Pemuda Muhammadiyah Kandangan berencana mengekspansi lahan mereka dengan komoditas lain seperti cabai atau sayuran organik. Mereka bermimpi suatu saat nanti memiliki “Brand Pertanian Pemuda” yang mampu memasok kebutuhan sayur-mayur di pasar-pasar lokal secara konsisten.
“Kami ingin menciptakan ekosistem di mana pemuda tidak lagi merasa gengsi untuk bertani. Bertani dengan cara modern, terukur, dan menghasilkan secara finansial adalah jalan ninja kami dalam berdakwah di sektor ekonomi,” tambah salah satu koordinator lapangan KOKAM.
Aksi nyata di Kandangan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kedaulatan sebuah bangsa—dan organisasi—dimulai dari apa yang ditanam di tanahnya sendiri. Saat bibit-bibit tomat itu mulai berakar, di sana pulalah harapan akan kemandirian ekonomi pemuda mulai tumbuh bersemi.











