Latest Post

TEMANGGUNG – Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) Cabang Kandangan turut mengambil peran strategis dalam menyukseskan perhelatan akbar Kemah Anak Islam (KEMAIS) 2025. Bertempat di Lapangan Gondang Winangun, Ngadirejo, puluhan personel KOKAM Kandangan disiagakan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan ribuan santri dari berbagai TPA/TPQ se-Kabupaten Temanggung yang memadati lokasi perkemahan.

Keterlibatan KOKAM Kandangan ini merupakan bentuk instruksi dan sinergi bersama Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kabupaten Temanggung selaku penyelenggara utama. KEMAIS 2025 yang mengusung tema “Ceria dalam Iman, Hebat dalam Akhlak” ini bukan sekadar ajang berkemah biasa, melainkan media pembentukan karakter bagi santri usia kelas 4 hingga 6 SD.

Fokus Keamanan dan Ketertiban Area

Mengingat skala kegiatan yang melibatkan banyak peserta—di mana setiap regu terdiri dari 10 hingga 15 anak—faktor keamanan menjadi prioritas utama panitia. Personel KOKAM Kandangan mulai terlihat sibuk sejak masa persiapan fisik di lapangan. Tugas mereka meliputi pengaturan lalu lintas di sekitar akses masuk Lapangan Gondang Winangun, pengawasan area pertendaan, hingga memastikan protokol keselamatan santri terjaga selama 3 hari 2 malam.

“Tugas kami adalah memastikan adik-adik santri dapat mengikuti seluruh rangkaian acara dengan tenang,” ujar salah satu koordinator lapangan KOKAM Kandangan. Pengamanan ini mencakup pengawasan skema kavling area pertendaan yang telah disusun oleh divisi perlengkapan untuk memastikan mobilitas peserta tetap teratur.

Menjaga Khidmatnya Rangkaian Agenda

Berdasarkan jadwal resmi, KEMAIS 2025 berlangsung dari Sabtu hingga Senin, 27-29 Desember 2025. Pengamanan ekstra dilakukan oleh KOKAM pada saat agenda-agenda krusial, seperti:

  • Upacara Pembukaan dan Penutupan: Melibatkan pejabat daerah seperti Bupati, Kakankemenag, hingga pimpinan PDPM dan PDM Temanggung.
  • Kegiatan Ibadah Malam: Personel tetap berjaga saat para santri melaksanakan Shalat Tahajud berjamaah pada pukul 03.00 WIB guna menjaga suasana tetap kondusif dan khidmat.
  • Pelaksanaan Lomba-Lomba: KOKAM membantu menjaga ketertiban di area perlombaan seperti Lomba Adzan, Murattal QS Al-Kahfi 1-10, Pidato, hingga Cerdas Cermat Al-Qur’an (CCQ) agar tidak terganggu oleh kerumunan suporter.
  • Pentas Seni dan Acara Puncak: Pada Ahad malam, KOKAM memperketat penjagaan di sekitar panggung utama saat pertunjukan drama, nasyid, dan dongeng anak berlangsung hingga pukul 22.00 WIB.

Sinergi Pembinaan Karakter

KOKAM Kandangan juga bersinergi dengan para pemandu kafilah yang berasal dari kalangan pelajar SMA/MA/SMK Muhammadiyah. Sambil berpatroli, personel KOKAM kerap memberikan edukasi disiplin kepada santri, selaras dengan tujuan kegiatan untuk melatih kemandirian dan tanggung jawab sejak dini.

Penyelenggaraan KEMAIS 2025 ini didasarkan pada Program Kerja AMM Kabupaten Temanggung tahun 2025 dan Keputusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Nomor 34/KEP/III.0/D/2025. Dengan dukungan keamanan dari KOKAM, diharapkan target penanaman nilai keislaman dan penguatan ukhuwah Islamiyah antar-lembaga pendidikan Islam di Temanggung dapat tercapai maksimal.

Logistik dan Fasilitas Terpadu

Selain pengamanan manusia, KOKAM juga membantu mengawasi aset-aset penting di lapangan, mulai dari tenda panitia, tenda pembina, peralatan sound system, hingga fasilitas umum yang disediakan panitia. Mereka juga memastikan area dapur mandiri setiap TPA tetap aman dari risiko kebakaran atau gangguan lainnya.

Bagi masyarakat atau wali santri yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai kondisi di lapangan, panitia telah menyediakan portal resmi di https://kemais.centermu.com serta layanan Call Center di nomor 0851-1730-7400.

Partisipasi aktif KOKAM Kandangan dalam KEMAIS 2025 menegaskan bahwa pengabdian organisasi ini tidak hanya terbatas pada tugas-tugas fisik berat, tetapi juga dalam mengawal tumbuh kembang generasi muda Muslim agar menjadi pribadi yang shaleh, cerdas, dan disiplin.

KANDANGAN, TEMANGGUNG – Menjelang momentum bersejarah pengukuhan Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Kecamatan Kandangan, sejumlah unsur pimpinan dalam keluarga besar Muhammadiyah Kandangan menggelar rapat konsolidasi lintas organisasi. Pertemuan yang berlangsung pada akhir pekan ini memilih suasana santai namun sarat makna di Angkringan Pak Pulung, sebuah tempat pertemuan lokal yang populer di wilayah Kandangan.

Hadir dalam agenda tersebut jajaran pimpinan dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Kandangan, serta Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kandangan. Kehadiran berbagai unsur ini menegaskan dukungan penuh terhadap lahirnya kembali semangat gerakan perempuan muda Muhammadiyah di wilayah tersebut.

Menyatukan Visi di Tengah Suasana Hangat

Pertemuan dimulai saat senja mulai turun di Kandangan. Aroma jahe hangat dan kepulan asap dari tungku arang Angkringan Pak Pulung menjadi latar belakang diskusi yang produktif. Meski dilakukan di tempat yang sederhana dan merakyat, pembahasan yang diangkat bersifat strategis bagi masa depan dakwah Muhammadiyah di tingkat kecamatan.

Ketua PCM Kandangan, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa pembentukan dan pengukuhan PCNA Kandangan bukan sekadar urusan administratif formalitas. Menurutnya, Nasyiatul Aisyiyah (NA) adalah “padi” yang harus terus disemai agar Muhammadiyah memiliki keberlanjutan kader perempuan yang militan dan intelektual.

“Konsolidasi malam ini adalah bukti bahwa PCNA tidak berdiri sendiri. Ada ‘Ayahanda’ di PCM, ‘Ibunda’ di PCA, dan ‘Saudara Tua’ di PCPM yang siap menyokong. Angkringan Pak Pulung sengaja dipilih agar komunikasi mengalir lebih cair, tanpa sekat formalitas yang kaku, sehingga hambatan-hambatan teknis jelang pengukuhan bisa segera dicarikan solusinya,” ungkapnya di sela-sela menikmati hidangan khas angkringan.

Sinergi PCA dan PCPM: Dukungan Tanpa Batas

Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Kandangan memberikan perhatian khusus dalam rapat ini. Sebagai organisasi otonom yang akan menjadi “ibu” bagi NA, PCA menekankan pentingnya pendampingan bagi para pengurus baru PCNA yang mayoritas diisi oleh generasi milenial dan Gen Z.

“Kami di Aisyiyah sangat bersyukur dengan progres pembentukan PCNA Kandangan. Ini adalah jawaban atas kebutuhan ruang bagi perempuan muda untuk beraktualisasi. Kami siap membimbing, namun tetap memberikan kebebasan bagi PCNA untuk berinovasi sesuai dengan semangat zaman mereka,” ujar salah satu perwakilan pimpinan PCA.

Di sisi lain, PCPM Kandangan yang selama ini dikenal sangat aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, menyatakan kesiapannya untuk membantu secara teknis dan operasional demi kelancaran hari pengukuhan. Hubungan harmonis antara Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah diharapkan menjadi motor penggerak dakwah komunitas di Kandangan, terutama dalam menarik minat pemuda-pemudi di desa-desa.

Agenda Utama: Mematangkan Persiapan Pengukuhan

Rapat yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam tersebut fokus pada beberapa poin inti persiapan. Pertama adalah pemantapan struktur kepengurusan PCNA yang akan dilantik. Kedua, pembahasan mengenai tema besar pengukuhan yang diharapkan mampu merepresentasikan identitas lokal Kandangan sekaligus visi global Muhammadiyah.

Ketiga, koordinasi logistik dan pemilihan lokasi pengukuhan. Para pimpinan sepakat bahwa acara pengukuhan nanti harus menjadi syiar yang luas, tidak hanya bagi warga Muhammadiyah, tetapi juga bagi masyarakat umum di Kandangan.

“Kita ingin pengukuhan PCNA ini menjadi titik balik. NA harus hadir di tengah masyarakat, memberikan solusi atas isu-isu perempuan, kesehatan anak, dan ketahanan keluarga di tingkat lokal Kandangan,” tambah perwakilan dari tim formatur PCNA yang turut hadir.

Filosofi Angkringan dan Dakwah Grassroots

Pemilihan Angkringan Pak Pulung sebagai lokasi rapat juga mendapatkan apresiasi dari para peserta. Hal ini dianggap sebagai simbol dakwah Muhammadiyah yang inklusif dan merakyat. Muhammadiyah Kandangan ingin menunjukkan bahwa keputusan-keputusan besar organisasi tidak harus selalu diambil di dalam gedung mewah, tetapi bisa lahir dari diskusi hangat di pinggir jalan, dekat dengan realitas kehidupan warga.

Diskusi di angkringan ini juga membahas rencana jangka pendek pasca-pengukuhan, termasuk integrasi program PCNA dengan kegiatan sosial-keagamaan yang sudah ada, seperti pengajian rutin, aksi kemanusiaan, hingga pengembangan ekonomi kreatif bagi perempuan muda.

Menyongsong Hari Esok

Rapat konsolidasi ini berakhir dengan komitmen bersama untuk menyukseskan acara pengukuhan dalam waktu dekat. Seluruh pimpinan cabang yang hadir sepakat untuk bahu-membahu memastikan transisi kepemimpinan di NA berjalan mulus.

Dengan berakhirnya pertemuan di Angkringan Pak Pulung malam itu, satu langkah besar telah diambil. Konsolidasi ini tidak hanya memperkuat struktur organisasi, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antar-kader. Wajah-wajah optimis terpancar dari para pengurus, menandakan bahwa Nasyiatul Aisyiyah Kandangan siap untuk “terbit” dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah.

Pengukuhan PCNA mendatang diharapkan menjadi momentum bagi bangkitnya gerakan perempuan muda yang mencerahkan, membawa semangat Al-Birru Manittaqo (Kebajikan adalah bagi mereka yang bertakwa), dan menjadikan Kandangan sebagai wilayah yang berkemajuan.

KANDANGAN – Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kandangan kembali menggelar agenda rutin diskusi santai bertajuk “Pos Ronda #7” pada Sabtu malam, 20 Desember 2025. Bertempat di kediaman Saudara Aji Jati, suasana dingin khas Kandangan berubah menjadi hangat dengan kehadiran puluhan kader muda yang antusias mengikuti diskusi bertema penguatan ideologi organisasi.

Berbeda dengan kajian formal di masjid, Pos Ronda kali ini tetap mempertahankan karakteristiknya yang inklusif: Rembugan & Ngopi, Bareng Pemuda. Sambil menikmati kopi hangat dan kudapan tradisional, para kader menyimak paparan materi inti yang disampaikan oleh Ustaz Asmu’i, S.Pd. Beliau membedah pentingnya penerapan konsep Aqidah, Akhlaq, dan Ibadah sebagai napas utama dalam berorganisasi di lingkungan Muhammadiyah.

Aqidah sebagai Akar Perjuangan

Dalam pembukaannya, Ustaz Asmu’i menekankan bahwa organisasi bagi kader Muhammadiyah bukanlah sekadar perkumpulan sosial atau tempat mencari eksistensi. Organisasi adalah ladang dakwah yang harus didasari oleh aqidah yang lurus.

“Aqidah adalah fondasi. Jika akarnya kuat, maka pohon organisasi ini tidak akan roboh diterjang angin fitnah atau ujian zaman,” ujar Ustaz Asmu’i di hadapan para jamaah yang duduk lesehan. Beliau menjelaskan bahwa setiap langkah di PCPM maupun KOKAM harus diniatkan murni karena Allah SWT (Ikhlasunniyah). Tanpa aqidah yang benar, semangat berorganisasi akan mudah luntur saat menghadapi gesekan internal maupun tantangan eksternal.

Beliau juga mengingatkan agar para pemuda menjauhi sifat syirik dalam berorganisasi, yakni menggantungkan harapan atau tujuan gerakan kepada selain Allah, seperti hanya mengejar materi atau jabatan semata.

Akhlaq: Etika dalam Ber-Muhammadiyah

Melangkah ke poin kedua, Ustaz Asmu’i menyoroti aspek Akhlaq. Menurutnya, kepandaian berorganisasi tidak ada gunanya jika tidak dibarengi dengan budi pekerti yang luhur. Akhlaq dalam organisasi manifestasinya adalah bagaimana seorang pimpinan menghargai anggotanya, dan bagaimana anggota memberikan loyalitas serta masukan yang santun kepada pimpinan.

“Pemuda Muhammadiyah harus menjadi cermin akhlaqul karimah di tengah masyarakat. Cara kita berkomunikasi di grup WhatsApp, cara kita berdiskusi di forum, hingga cara kita bersikap di media sosial, semuanya harus mencerminkan nilai-nilai Islam,” tegasnya.

Beliau menambahkan bahwa dalam berorganisasi, perbedaan pendapat adalah hal lumrah. Namun, akhlaq-lah yang menjaga agar perbedaan tersebut tidak berubah menjadi perpecahan. Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) harus dilakukan dengan cara yang baik pula (Ma’ruf).

Ibadah: Menjadikan Organisasi sebagai Sajadah Panjang

Poin terakhir yang ditekankan adalah konsep Ibadah. Ustaz Asmu’i meluruskan persepsi bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada shalat dan puasa (ibadah mahdhah). Aktivitas organisasi seperti bakti sosial, pengamanan kegiatan oleh KOKAM, hingga mengelola unit usaha seperti air minum “Segarmu”, semuanya adalah ibadah ghairu mahdhah jika dilakukan dengan tata cara yang benar dan niat yang tulus.

“Jangan pernah merasa lelah mengurus organisasi, karena setiap menit yang kita habiskan untuk memikirkan umat, setiap tetes keringat saat menjalankan program, itu tercatat sebagai amal jariyah. Jadikan PCPM ini sebagai sajadah panjang kita untuk bersujud kepada Allah melalui pengabdian,” tambahnya yang disambut anggukan mantap dari para peserta.

Dialog Hangat di Bawah Langit Kandangan

Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB ini berlangsung sangat interaktif. Sesuai dengan tagline di poster, “Tukar Kawruh & Info-info”, sesi tanya jawab dipenuhi dengan diskusi mengenai problematika pemuda masa kini, mulai dari tantangan ekonomi hingga cara menjaga konsistensi (istiqamah) dalam berdakwah.

Kegiatan “Pos Ronda” sendiri memang didesain oleh PCPM Kandangan sebagai medium dakwah kultural. Dengan suasana yang santai, bahkan diselingi tradisi nglinting dan jagongan, sekat-sekat formalitas antara senior dan yunior lebur. Hal ini terbukti efektif menarik minat pemuda di tingkat ranting untuk lebih aktif berkontribusi.

Tuan rumah sekaligus kader PCPM, Aji Jati, mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara ini. “Kami ingin menunjukkan bahwa belajar agama dan berorganisasi itu tidak harus kaku. Di Pos Ronda ini, kita bisa bicara serius tentang masa depan umat, tapi tetap dengan rasa kekeluargaan yang erat,” ujarnya.

Acara berakhir menjelang tengah malam, namun semangat para kader tampak semakin membara. Melalui penguatan Aqidah, Akhlaq, dan Ibadah yang disampaikan Ustaz Asmu’i, PCPM Kandangan diharapkan semakin solid dalam menyongsong agenda-agenda besar di tahun 2026 mendatang, termasuk penguatan ekonomi produktif dan pemberdayaan pemuda di pelosok desa.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.