KANDANGAN – Keterampilan berbicara di depan umum (public speaking) bukan lagi sekadar hobi, melainkan kebutuhan pokok bagi para penggerak organisasi di era modern. Menyadari hal tersebut, Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kandangan sukses menyelenggarakan agenda bertajuk “Latihan Jadi MC” pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Acara yang berlangsung di ruang kelas SMP Muhammadiyah 5 Malebo, Kandangan, ini menjadi magnet bagi para kader muda di lingkungan Muhammadiyah. Dimulai tepat pukul 13.00 WIB, suasana sekolah yang biasanya tenang berubah menjadi dinamis dengan antusiasme puluhan peserta yang hadir untuk mencuri ilmu dari pakarnya.
Sinergi Lintas Organisasi: Kehadiran 37 Peserta Pilihan
Pelatihan ini tidak hanya diikuti oleh internal Pemuda Muhammadiyah. Berdasarkan data panitia, tercatat sekitar 37 peserta memadati lokasi acara. Angka ini mencerminkan keterwakilan yang inklusif dari berbagai unsur organisasi otonom (Ortom) dan institusi di bawah naungan Muhammadiyah.
Peserta terdiri dari gabungan personel Pemuda Muhammadiyah, srikandi muda dari Nasyiatul Aisyiyah (NA), pelajar aktif dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), serta utusan khusus dari berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di wilayah Kandangan. Kehadiran utusan AUM ini menjadi poin penting, mengingat institusi seperti sekolah maupun klinik Muhammadiyah sangat sering mengadakan acara formal yang membutuhkan tenaga pembawa acara (MC) yang kompeten.
Drs. Teguh Wibowo: Membedah Seni Berbicara dengan Karisma
PCPM Kandangan tidak main-main dalam menghadirkan narasumber. Sosok Drs. Teguh Wibowo, M.M., yang dikenal sebagai Kepala Sekolah SMAN 2 Temanggung, hadir sebagai pemateri utama. Dengan latar belakang pendidikannya yang kuat dan pengalaman memimpin institusi besar, beliau berhasil membawakan materi yang berat menjadi terasa ringan dan mudah dicerna.
Materi utama yang disampaikan berfokus pada dua pilar: Public Speaking secara umum dan Rincian Teknis Menjadi MC.
Dalam sesi Public Speaking, Pak Teguh menekankan bahwa musuh terbesar seorang pembicara bukanlah audiens, melainkan rasa takut dalam diri sendiri. Beliau membagikan tips praktis mengenai olah vokal, pengaturan napas, hingga cara menjaga kontak mata agar audiens merasa terlibat.
“Seorang MC adalah ruh dari sebuah acara. Jika MC-nya loyo, maka acara sehebat apa pun akan terasa hambar. Maka, kuasai dirimu sebelum menguasai panggung,” ujar beliau di sela-sela pemaparan materi.
Memasuki materi spesifik mengenai MC, peserta diajarkan perbedaan mendasar antara MC acara formal (protokoler), semi-formal, hingga acara hiburan. Rincian materi mencakup:
- Teknik Penyusunan Rundown: Memahami urutan acara agar tidak terjadi jeda yang kaku.
- Artikulasi dan Intonasi: Bagaimana menekankan nama pejabat atau judul agenda dengan benar.
- Handling the Unexpected: Taktik jitu saat terjadi kendala teknis (seperti mikrofon mati atau tamu telat datang) agar suasana tetap kondusif.
Praktis dan Interaktif
Pelatihan ini tidak hanya bersifat satu arah. Menjelang sore, suasana semakin seru saat peserta diminta untuk melakukan simulasi singkat. Beberapa kader IPM dan NA tampak berani maju ke depan untuk mempraktikkan “suara perut” dan gaya bahasa pembukaan acara formal.
Tawa dan canda sesekali pecah saat beberapa peserta masih merasa kaku dengan pilihan kata-katanya. Namun, di situlah letak kekeluargaan acara ini; saling mengoreksi dan memberikan apresiasi. Pak Teguh dengan sabar memberikan evaluasi langsung (direct coaching) kepada setiap peserta yang berani mencoba.
Harapan dan Penutup
Ketua PCPM Kandangan menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan investasi jangka panjang. Dengan membekali kader dengan kemampuan bicara yang baik, organisasi akan memiliki wajah yang lebih profesional di masa depan saat berinteraksi dengan masyarakat luas.
Setelah tiga jam penuh dengan transfer ilmu dan praktik, acara secara resmi ditutup pada pukul 16.00 WIB. Meski singkat, durasi tiga jam tersebut dinilai sangat efektif karena materi yang disampaikan sangat padat dan relevan dengan kebutuhan organisasi saat ini.
Acara diakhiri dengan sesi foto bersama dan pembagian motivasi penutup dari narasumber. Pulang dari SMP Muhammadiyah 5 Malebo, ke-37 peserta ini tidak hanya membawa sertifikat atau kenangan, tetapi juga kepercayaan diri baru untuk berdiri tegak di balik mikrofon pada acara-acara mendatang.



Posting Komentar