Februari 2026

KANDANGAN, 28 Februari 2026 – Semangat syiar Islam dan penguatan organisasi di tingkat akar rumput kembali ditunjukkan oleh Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kandangan. Pada Sabtu malam, 28 Februari 2026, suasana khidmat namun penuh kehangatan menyelimuti Dusun Diwak, Desa Baledu, Kecamatan Kandangan. Di sana, tepatnya di Masjid Al Huda, telah dilaksanakan agenda rutin “Tarawih Keliling” (Tarling) edisi kedua yang dirangkaikan dengan Kajian Pemuda.

Acara yang dimulai tepat pukul 18.30 WIB ini bukan sekadar rutinitas ibadah formal, melainkan momentum penting untuk mengonsolidasi semangat pemuda dan mempererat silaturahmi dengan warga sekitar. Tercatat, kurang lebih 70 jamaah memadati ruang utama masjid, menciptakan pemandangan harmonis yang mempertemukan lintas generasi dan lintas organisasi.

Sinergi Pemuda, Nasyiah, dan Warga Lokal

Kehadiran jamaah dalam Tarling #2 ini mencerminkan inklusivitas gerakan Muhammadiyah di Kandangan. Selain jajaran pengurus PCPM Kandangan, acara ini juga dihadiri oleh kader-kader Nasyiatul Aisyiyah (NA) yang memberikan warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Sinergi antara organisasi otonom Muhammadiyah ini menunjukkan bahwa gerakan dakwah di wilayah Kandangan berjalan secara beriringan dan solid.

Tidak hanya dihadiri oleh aktivis organisasi, warga lingkungan sekitar Masjid Al Huda juga turut menyambut baik kegiatan ini. Kehadiran para tokoh masyarakat dan jamaah setempat memberikan makna bahwa dakwah pemuda harus mampu menyentuh langsung ke jantung masyarakat. Interaksi yang terjadi antara pemuda dan para orang tua di sela-sela sholat berjamaah menciptakan atmosfer kekeluargaan yang kental.

Pesan Inspiratif dari Mukhammad Zidanul Akhsan

Puncak acara ditandai dengan penyampaian Kajian Pemuda yang menghadirkan narasumber muda yang kompeten, Mukhammad Zidanul Akhsan, S.Ag. Beliau, yang menjabat di Bidang Dakwah Islam PRPM Malebo, memberikan materi yang sangat relevan dengan tantangan zaman saat ini.

Dalam paparannya, Ustadz Zidanul menekankan pentingnya peran pemuda sebagai lokomotif perubahan di masyarakat, namun tetap harus berakar pada nilai-nilai spiritual yang kuat. Menurutnya, bulan Ramadhan adalah laboratorium terbaik untuk melatih integritas dan kepedulian sosial.

“Pemuda bukan hanya tentang usia, tetapi tentang semangat untuk memberi manfaat. Masjid harus menjadi pusat peradaban bagi pemuda, tempat di mana ide-ide brilian lahir dan di mana kesalehan sosial diasah,” ujar Zidanul di hadapan para jamaah yang menyimak dengan antusias. Beliau juga mengajak para pemuda untuk tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan masyarakat, tetapi menjadi aktor utama yang membawa solusi bagi permasalahan lingkungan sekitar.

Tarling Sebagai Media Dakwah dan Konsolidasi

Program Tarling #2 ini merupakan bagian dari rangkaian perjalanan dakwah PCPM Kandangan selama bulan suci. Menurut perwakilan panitia, kegiatan ini dirancang untuk memastikan bahwa gerak organisasi tidak hanya berpusat di kantor cabang, tetapi turun langsung menyapa jamaah di masjid-masjid di pelosok desa.

“Kami ingin membawa pesan bahwa Pemuda Muhammadiyah ada dan hadir di tengah-tengah masyarakat. Melalui Tarling ini, kami bisa mendengar langsung aspirasi warga sekaligus memperkuat jaringan komunikasi antarkader,” ungkap salah satu pengurus PCPM di sela-sela acara.

Suasana Masjid Al Huda yang sederhana namun tertata rapi menambah kekhusyukan acara. Setelah rangkaian sholat tarawih berjamaah dan kajian selesai, acara dilanjutkan dengan sesi ramah tamah singkat. Di sinilah dialog santai antara pengurus PCPM, kader NA, dan warga terjadi, membahas berbagai hal mulai dari program kepemudaan hingga isu-isu sosial di lingkungan setempat.

Kesan Warga dan Harapan ke Depan

Warga Dusun Diwak menyambut positif inisiatif ini. Salah satu tokoh warga menyatakan rasa bangganya melihat anak-anak muda yang aktif dalam kegiatan keagamaan. “Kehadiran adik-adik dari PCPM dan NA di Masjid Al Huda ini memberikan energi positif bagi kami. Kami berharap kegiatan seperti ini tidak hanya berhenti di sini, tapi terus berkelanjutan untuk memotivasi pemuda-pemuda desa kami agar lebih giat ke masjid,” tuturnya.

Dengan partisipasi sekitar 70 jamaah, acara ini dinilai sukses melampaui ekspektasi panitia dalam hal antusiasme. Keberhasilan Tarling #2 ini menjadi pemacu semangat bagi PCPM Kandangan untuk terus melanjutkan estafet dakwah pada edisi-edisi Tarling berikutnya.

Melalui kegiatan ini, PCPM Kandangan kembali membuktikan bahwa dakwah Islam yang berkemajuan dapat dilakukan dengan cara-cara yang merakyat, santun, dan penuh inspirasi. Semangat dari Masjid Al Huda ini diharapkan terus menjalar, membangkitkan gairah ber-Muhammadiyah dan ber-Islam yang mencerahkan di seluruh pelosok Kandangan.

KANDANGAN – Keterampilan berbicara di depan umum (public speaking) bukan lagi sekadar hobi, melainkan kebutuhan pokok bagi para penggerak organisasi di era modern. Menyadari hal tersebut, Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kandangan sukses menyelenggarakan agenda bertajuk “Latihan Jadi MC” pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Acara yang berlangsung di ruang kelas SMP Muhammadiyah 5 Malebo, Kandangan, ini menjadi magnet bagi para kader muda di lingkungan Muhammadiyah. Dimulai tepat pukul 13.00 WIB, suasana sekolah yang biasanya tenang berubah menjadi dinamis dengan antusiasme puluhan peserta yang hadir untuk mencuri ilmu dari pakarnya.

Sinergi Lintas Organisasi: Kehadiran 37 Peserta Pilihan

Pelatihan ini tidak hanya diikuti oleh internal Pemuda Muhammadiyah. Berdasarkan data panitia, tercatat sekitar 37 peserta memadati lokasi acara. Angka ini mencerminkan keterwakilan yang inklusif dari berbagai unsur organisasi otonom (Ortom) dan institusi di bawah naungan Muhammadiyah.

Peserta terdiri dari gabungan personel Pemuda Muhammadiyah, srikandi muda dari Nasyiatul Aisyiyah (NA), pelajar aktif dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), serta utusan khusus dari berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di wilayah Kandangan. Kehadiran utusan AUM ini menjadi poin penting, mengingat institusi seperti sekolah maupun klinik Muhammadiyah sangat sering mengadakan acara formal yang membutuhkan tenaga pembawa acara (MC) yang kompeten.

Drs. Teguh Wibowo: Membedah Seni Berbicara dengan Karisma

PCPM Kandangan tidak main-main dalam menghadirkan narasumber. Sosok Drs. Teguh Wibowo, M.M., yang dikenal sebagai Kepala Sekolah SMAN 2 Temanggung, hadir sebagai pemateri utama. Dengan latar belakang pendidikannya yang kuat dan pengalaman memimpin institusi besar, beliau berhasil membawakan materi yang berat menjadi terasa ringan dan mudah dicerna.

Materi utama yang disampaikan berfokus pada dua pilar: Public Speaking secara umum dan Rincian Teknis Menjadi MC.

Dalam sesi Public Speaking, Pak Teguh menekankan bahwa musuh terbesar seorang pembicara bukanlah audiens, melainkan rasa takut dalam diri sendiri. Beliau membagikan tips praktis mengenai olah vokal, pengaturan napas, hingga cara menjaga kontak mata agar audiens merasa terlibat.

“Seorang MC adalah ruh dari sebuah acara. Jika MC-nya loyo, maka acara sehebat apa pun akan terasa hambar. Maka, kuasai dirimu sebelum menguasai panggung,” ujar beliau di sela-sela pemaparan materi.

Memasuki materi spesifik mengenai MC, peserta diajarkan perbedaan mendasar antara MC acara formal (protokoler), semi-formal, hingga acara hiburan. Rincian materi mencakup:

  • Teknik Penyusunan Rundown: Memahami urutan acara agar tidak terjadi jeda yang kaku.
  • Artikulasi dan Intonasi: Bagaimana menekankan nama pejabat atau judul agenda dengan benar.
  • Handling the Unexpected: Taktik jitu saat terjadi kendala teknis (seperti mikrofon mati atau tamu telat datang) agar suasana tetap kondusif.

Praktis dan Interaktif

Pelatihan ini tidak hanya bersifat satu arah. Menjelang sore, suasana semakin seru saat peserta diminta untuk melakukan simulasi singkat. Beberapa kader IPM dan NA tampak berani maju ke depan untuk mempraktikkan “suara perut” dan gaya bahasa pembukaan acara formal.

Tawa dan canda sesekali pecah saat beberapa peserta masih merasa kaku dengan pilihan kata-katanya. Namun, di situlah letak kekeluargaan acara ini; saling mengoreksi dan memberikan apresiasi. Pak Teguh dengan sabar memberikan evaluasi langsung (direct coaching) kepada setiap peserta yang berani mencoba.


Harapan dan Penutup

Ketua PCPM Kandangan menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan investasi jangka panjang. Dengan membekali kader dengan kemampuan bicara yang baik, organisasi akan memiliki wajah yang lebih profesional di masa depan saat berinteraksi dengan masyarakat luas.

Setelah tiga jam penuh dengan transfer ilmu dan praktik, acara secara resmi ditutup pada pukul 16.00 WIB. Meski singkat, durasi tiga jam tersebut dinilai sangat efektif karena materi yang disampaikan sangat padat dan relevan dengan kebutuhan organisasi saat ini.

Acara diakhiri dengan sesi foto bersama dan pembagian motivasi penutup dari narasumber. Pulang dari SMP Muhammadiyah 5 Malebo, ke-37 peserta ini tidak hanya membawa sertifikat atau kenangan, tetapi juga kepercayaan diri baru untuk berdiri tegak di balik mikrofon pada acara-acara mendatang.

KANDANGAN – Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kandangan kembali menunjukkan eksistensinya bukan sekadar sebagai organisasi kepemudaan yang piawai dalam wacana, melainkan juga nyata dalam aksi sosial. Pada Ahad pagi yang cerah ini, puluhan kader muda Muhammadiyah melaksanakan aksi “Bersih Masjid” di Masjid Nurul Iman, Punduhan, Kandangan.

Kegiatan ini dilaksanakan tepat setelah berakhirnya rutinitas Kajian Ahad Pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan. Langkah ini diambil sebagai bentuk konkret dari filosofi Dakwah Bil Hal, yakni berdakwah melalui perbuatan nyata yang menyentuh langsung kepentingan umat.

Sinergi Spiritual dan Sosial

Suasana di Masjid Nurul Iman Punduhan sejak pukul 08.00 WIB sudah tampak ramai. Ratusan jemaah dari berbagai penjuru Kandangan memadati ruang utama masjid untuk menyimak siraman rohani dalam Kajian Ahad Pagi. Namun, pemandangan berbeda terlihat sesaat setelah ustaz menutup ceramah dengan doa. Di saat sebagian besar jemaah mulai meninggalkan area masjid, sekelompok pemuda berseragam khas dan kaos olahraga tampak bersiap dengan peralatan kebersihan di tangan.

Mereka adalah para personel PCPM Kandangan. Tanpa komando yang berlebihan, mereka langsung membagi tugas. Ada yang bergerak menuju area tempat wudu, ada yang naik ke lantai atas untuk membersihkan kaca, hingga mereka yang menyisir halaman masjid dari sampah plastik maupun dedaunan kering.

“Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang kami upayakan untuk terus istikamah. Kami ingin menunjukkan bahwa Pemuda Muhammadiyah hadir untuk menjaga kenyamanan rumah ibadah,” ujar Ketua PCPM Kandangan di sela-sela kegiatannya.

Detail Aksi Kebersihan

Aksi bersih-bersih kali ini dilakukan secara menyeluruh. Fokus utama para pemuda adalah area-area yang sering luput dari pembersihan harian. Di area tempat wudu dan kamar mandi, para kader menggosok lantai dan dinding yang mulai berlumut guna memastikan jemaah dapat bersuci dengan nyaman dan aman tanpa takut tergelincir.

Di dalam ruang utama masjid, vakum pembersih debu dijalankan di atas karpet-karpet sajadah. Bagian mimbar dan lemari kitab pun tidak luput dari perhatian; debu-debu dibersihkan, dan mukena serta sarung yang tersedia ditata kembali dengan rapi.

Menurut koordinator lapangan aksi ini, Masjid Nurul Iman Punduhan dipilih karena merupakan salah satu pusat kegiatan dakwah Muhammadiyah yang sangat aktif di Kandangan. “Intensitas penggunaan masjid ini sangat tinggi, terutama saat Kajian Ahad Pagi. Maka, sudah menjadi kewajiban kami selaku angkatan muda untuk memastikan masjid kembali dalam keadaan bersih dan harum setelah digunakan oleh banyak jemaah,” ungkapnya.

Mendapat Apresiasi dari Sesepuh Muhammadiyah

Aksi sigap para pemuda ini tidak luput dari perhatian jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan. Salah satu tokoh Muhammadiyah setempat menyampaikan rasa bangganya melihat geliat semangat para pemuda.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif PCPM. Kajian adalah nutrisi untuk hati, sedangkan aksi bersih masjid ini adalah buah dari iman tersebut. Membersihkan masjid adalah amal yang sangat mulia di sisi Allah. Ini menunjukkan bahwa kaderisasi di Kandangan berjalan dengan baik, di mana pemudanya memiliki rasa memiliki yang tinggi terhadap fasilitas dakwah,” tuturnya dengan nada haru.

Beliau juga menambahkan bahwa kegiatan seperti ini membantu meringankan tugas marbot masjid dan memberikan teladan bagi masyarakat sekitar tentang pentingnya gotong royong dalam menjaga kebersihan fasilitas umum.

Memupuk Kebersamaan Kader

Selain dimensi ibadah dan sosial, kegiatan Bersih Masjid ini juga menjadi sarana konsolidasi internal bagi PCPM Kandangan. Di tengah kesibukan masing-masing anggota yang terdiri dari berbagai profesi, momen ini menjadi ajang silaturahmi yang santai namun produktif.

Canda tawa mewarnai proses pembersihan, namun tidak mengurangi keseriusan kerja. Kerja sama tim terlihat saat mereka bahu-membahu menggeser lemari atau membersihkan langit-langit masjid yang tinggi. Semangat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) terpancar jelas dari peluh yang menetes di wajah para kader muda ini.

Harapan ke Depan

Kegiatan yang berakhir menjelang waktu salat Zuhur ini ditutup dengan sesi makan siang bersama yang sederhana namun penuh keakraban. PCPM Kandangan berharap kegiatan ini bisa menjadi inspirasi bagi organisasi kepemudaan lainnya di wilayah Hulu Sungai Selatan.

“Target kami ke depan adalah menjangkau lebih banyak masjid dan musala, tidak hanya yang berada di bawah naungan Muhammadiyah, tetapi juga masjid-masjid umum yang membutuhkan bantuan tenaga untuk pembersihan skala besar,” tutup perwakilan PCPM.

Dengan berakhirnya aksi di Masjid Nurul Iman Punduhan ini, PCPM Kandangan kembali membuktikan bahwa pemuda adalah mesin penggerak perubahan. Kehadiran mereka bukan hanya tentang mengisi saf terdepan dalam salat, tetapi juga tentang menjadi orang pertama yang memegang sapu demi kenyamanan ibadah orang banyak.

KANDANGAN, TEMANGGUNG – Suasana khidmat menyelimuti Dusun Malebo Kulon, Desa Kandangan, pada Sabtu malam (21/02/2026). Cahaya lampu Masjid Ar Rahmah tampak lebih terang dari biasanya, menyambut puluhan jamaah yang hadir dengan antusiasme tinggi. Malam itu, Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kandangan resmi meluncurkan putaran pertama kegiatan Tarawih Keliling (Tarling) yang dirangkai dengan Kajian Pemuda.

Acara perdana ini bukan sekadar rutinitas ibadah formal, melainkan menjadi ajang silaturahmi lintas generasi dan organisasi. Berdasarkan pantauan di lokasi, jamaah yang hadir terdiri dari berbagai unsur strategis Muhammadiyah. Nampak baret-baret gagah dari Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) yang berjaga sekaligus ikut mengaji, kader-kader Nasyiatul Aisyiyah (NA) yang penuh semangat, jajaran Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Malebo, hingga masyarakat umum yang memadati shaf masjid.

Sinergi Pemuda dan Masyarakat

Ketua PCPM Kandangan dalam sambutannya menekankan bahwa Tarling #1 ini bertujuan untuk mempererat ukhuwah islamiyah di wilayah Kandangan. “Kami ingin menghidupkan syiar Islam di pelosok-pelosok desa melalui semangat kepemudaan. Kehadiran KOKAM, NA, dan dukungan dari orang tua kami di PRM Malebo adalah bukti bahwa dakwah ini adalah milik kita bersama,” ujarnya.

Setelah pelaksanaan shalat tarawih berjamaah, acara dilanjutkan dengan inti kegiatan, yaitu Kajian Pemuda. Hadir sebagai narasumber utama adalah Ustaz Ja’far Shodiq, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Temanggung. Dengan gaya penyampaian yang lugas namun berbobot, beliau membawakan tema sentral: “Napak Tilas Sejarah Disyariatkannya Puasa Ramadhan.”

Menelusuri Jejak Kenabian

Ustaz Ja’far Shodiq mengawali tausiyahnya dengan mengajak jamaah menarik garis waktu ke masa kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau memaparkan bahwa pemahaman tentang ibadah puasa tidak bisa dilepaskan dari perjalanan hidup sang pembawa risalah.

“Kita harus memahami bahwa Islam tidak turun secara instan. Ada proses panjang sejak kelahiran Nabi di tahun Gajah, hingga beliau menerima wahyu pertama di Gua Hira pada usia 40 tahun,” urai Ustaz Ja’far. Beliau menjelaskan bahwa selama 13 tahun di Makkah, fokus utama dakwah adalah penanaman akidah (tauhid). Pada masa itu, belum ada perintah untuk melaksanakan puasa Ramadhan seperti yang kita kenal sekarang.

Transformasi besar terjadi saat peristiwa Hijrah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Di Madinah, Islam mulai menata tatanan sosial dan hukum. Ustaz Ja’far menekankan bahwa Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan momentum pemisahan antara yang hak dan yang batil, serta titik awal penguatan identitas umat melalui berbagai syariat, termasuk puasa.

Detik-Detik Turunnya Syariat Puasa

Memasuki poin utama, Ustaz Ja’far menjelaskan secara rinci kapan dan bagaimana puasa Ramadhan mulai diwajibkan. “Puasa Ramadhan baru disyariatkan pada tahun kedua Hijriah. Tepatnya pada bulan Sya’ban, melalui turunnya firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183,” jelasnya di hadapan jamaah yang menyimak dengan saksama.

Beliau memaparkan fakta sejarah bahwa sebelum kewajiban puasa Ramadhan turun, Rasulullah SAW dan para sahabat sebenarnya sudah terbiasa menjalankan puasa, namun sifatnya berbeda, seperti puasa hari Asyura. Namun, seiring dengan diperlukannya penguatan mental dan spiritual bagi kaum muslimin yang saat itu tengah menghadapi berbagai tantangan besar di Madinah—termasuk persiapan menjelang Perang Badar—maka Allah menurunkan kewajiban puasa satu bulan penuh.

“Syariat ini turun untuk membentuk ketakwaan yang tangguh. Bayangkan, para sahabat diwajibkan berpuasa di tengah kondisi cuaca yang ekstrem dan tekanan politik yang tinggi. Ini adalah pelajaran bagi pemuda zaman sekarang: bahwa ibadah adalah sarana latihan kedisiplinan dan kekuatan mental,” tegas Ustaz Ja’far.

Relevansi Bagi Pemuda Masa Kini

Kajian yang berlangsung selama kurang lebih satu jam tersebut ditutup dengan pesan mendalam bagi para kader PCPM, KOKAM, dan NA. Ustaz Ja’far mengingatkan bahwa memahami sejarah syariat akan membuat seorang mukmin lebih menghargai setiap tetes keringat dan rasa lapar yang dirasakan saat berpuasa.

“Jangan sampai puasa kita hanya menjadi rutinitas menahan lapar. Ingatlah sejarahnya, ingatlah perjuangan Rasulullah saat menerima perintah ini. Dengan begitu, kualitas takwa kita akan meningkat,” pungkasnya.

Acara Tarling #1 ini diakhiri dengan ramah tamah dan diskusi santai antara pemuda dan tokoh masyarakat. Keberhasilan acara di Masjid Ar Rahmah ini diharapkan menjadi pematik semangat untuk putaran Tarling selanjutnya di wilayah Kandangan lainnya. Dengan kolaborasi yang solid antara unsur pemuda dan masyarakat, dakwah Muhammadiyah di Kandangan dipastikan akan terus tumbuh dan memberikan manfaat nyata bagi umat.

KANDANGAN – Suasana sore di Komplek SMP Muhammadiyah 5 Kandangan pada Sabtu, 21 Februari 2026, tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah pasang mata tertuju pada deretan sasaran (target face) yang berjajar rapi di lapangan terbuka. Di bawah naungan langit sore yang mulai mendingin, Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kandangan secara resmi sukses menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Marhaban Ya Panahan”.

Kegiatan yang dirancang sebagai sarana ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa ini berhasil menarik perhatian masyarakat luas, khususnya para pemuda yang mencari alternatif kegiatan bermanfaat di bulan suci. Dengan mengusung semangat olahraga sunnah, PCPM Kandangan membuktikan bahwa produktivitas tidak harus berhenti meski sedang menjalankan ibadah puasa.

Melatih Fokus Melampaui Ketepatan

Sesuai dengan narasi yang tertuang dalam poster kegiatan, “Marhaban Ya Panahan” bukan sekadar ajang pamer kemahiran melepaskan anak panah. Panitia menekankan bahwa filosofi utama dari kegiatan ini adalah melatih konsentrasi dan kesabaran.

“Kami ingin menghadirkan suasana Ramadan yang dinamis. Memanah adalah olahraga yang membutuhkan ketenangan batin. Di tengah rasa lapar dan dahaga saat berpuasa, memanah menjadi ujian bagi konsentrasi kita,” ujar salah satu perwakilan panitia di sela-sela acara.

Para peserta, mulai dari pemula hingga yang sudah berpengalaman, tampak antusias mendengarkan instruksi dari para mentor. Mereka diajarkan bagaimana teknik stance yang benar, cara menarik string dengan stabil, hingga momen krusial saat melepaskan anak panah (release). Setiap lesatan anak panah yang menancap di papan sasaran disambut dengan tepuk tangan meriah dari penonton yang hadir.

Lokasi Strategis di Komplek SMP MUMA Kandangan

Pemilihan lokasi di Komplek SMP MUMA Kandangan dinilai sangat tepat. Area lapangan yang luas dan aksesibel memudahkan para peserta untuk berkumpul. Sejak pukul 16.00 WIB, lokasi sudah mulai dipadati oleh peserta yang telah mendaftar maupun masyarakat sekitar yang sekadar ingin menyaksikan jalannya perlombaan eksibisi ini.

Atmosfer acara semakin hidup dengan dekorasi yang didominasi warna merah dan hitam, selaras dengan identitas visual PCPM Kandangan. Poster-poster motivasi bertuliskan “Join today and hit your goals—one arrow at a time” tersebar di beberapa titik, memberikan suntikan semangat bagi para peserta untuk terus mencoba hingga tepat mengenai sasaran (bullseye).

Antusiasme Peserta dan Masyarakat

Peserta yang hadir datang dari berbagai kalangan. Tidak hanya dari internal kader Muhammadiyah, tetapi juga pemuda umum di wilayah Kandangan dan sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa olahraga panahan memiliki daya tarik yang inklusif.

“Ini pengalaman pertama saya mencoba memanah secara formal. Ternyata tidak semudah kelihatannya. Butuh kesabaran ekstra saat membidik sasaran. Ini benar-benar cara ngabuburit yang berbeda dan sangat seru,” ungkap seorang peserta remaja yang datang bersama teman-temannya.

Kehadiran pedagang UMKM lokal di sekitar lokasi juga menambah kemeriahan. Sinergi antara kegiatan olahraga dan ekonomi kerakyatan ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi kesuksesan acara yang digagas oleh PCPM Kandangan tersebut.

“One Arrow at a Time”: Filosofi Mencapai Tujuan

Ketua PCPM Kandangan dalam sambutannya menyampaikan bahwa tagline “One Arrow at a Time” mengandung pesan moral yang mendalam bagi pemuda. Dalam kehidupan, seringkali manusia merasa kewalahan dengan beban target yang besar. Namun, melalui panahan, mereka diajarkan untuk fokus pada satu langkah kecil terlebih dahulu.

“Jika kita ingin mencapai target besar dalam hidup, mulailah dengan fokus pada satu anak panah yang ada di tangan kita sekarang. Lepaskan dengan penuh keyakinan. Itulah yang ingin kami tanamkan kepada para pemuda di Kandangan melalui acara ini,” jelasnya

Kesuksesan acara ini juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk pihak sekolah SMP MUMA Kandangan yang telah memfasilitasi tempat, serta para sponsor lokal yang mendukung jalannya kegiatan.

Penutup dan Harapan ke Depan

Kegiatan berakhir sesaat sebelum waktu berbuka puasa tiba. Setelah sesi foto bersama dan pembagian apresiasi bagi peserta dengan skor terbaik, acara ditutup dengan doa bersama. Keberhasilan “Marhaban Ya Panahan” ini menjadi bukti nyata bahwa PCPM Kandangan mampu menghadirkan syiar Islam melalui jalur olahraga yang segar dan relevan dengan gaya hidup masa kini.

Banyak peserta yang berharap agar kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda musiman di bulan Ramadan, tetapi bisa berlanjut menjadi klub olahraga rutin atau sekolah panahan di bawah naungan Pemuda Muhammadiyah.

Dengan berakhirnya acara pada pukul 18.00 WIB, PCPM Kandangan telah resmi menancapkan “anak panah” keberhasilan mereka di hati masyarakat. Sebuah langkah kecil yang diharapkan mampu membawa dampak besar bagi pembangunan karakter pemuda yang mandiri, sabar, dan penuh konsentrasi dalam mencapai cita-cita.

TEMANGGUNG – Semangat Fastabiqul Khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan) terpancar nyata di lereng Gunung Sumbing. Pada Sabtu, 14 Februari 2026, jajaran Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) dan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) Kecamatan Kandangan resmi menghadiri agenda krusial: Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Temanggung.

Acara yang berlangsung di Pawon Aryo Gondo, Jalan Kedondong No. 37, Manding, ini menjadi momentum penting bagi konsolidasi organisasi di awal tahun 2026. Delegasi dari Kandangan hadir dengan formasi lengkap sesuai mandat organisasi, membawa misi untuk menyelaraskan program kerja cabang dengan visi besar Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Temanggung.

Langkah Strategis Menuju Pemuda Negarawan

Kehadiran PCPM Kandangan bukan sekadar memenuhi undangan bernomor 1.8/009/1447 yang ditandatangani oleh Ketua PDPM Temanggung, Sugiyono, dan Sekretaris Oman Faiyun. Lebih dari itu, kehadiran ini merupakan representasi dari komitmen pemuda di tingkat akar rumput untuk tetap satu komando dalam gerakan dakwah amar ma'ruf nahi munkar.

Ketua PCPM Kandangan menyatakan bahwa Rapimda kali ini memiliki urgensi yang sangat tinggi. Di tengah dinamika sosial yang kian kompleks di Kabupaten Temanggung, peran pemuda sangat dibutuhkan sebagai akselerator perubahan.

"Kami datang ke sini membawa suara dari rekan-rekan di Kandangan. Fokus kami adalah bagaimana program di tingkat daerah bisa dieksekusi dengan gaya lokal di cabang, terutama dalam penguatan ekonomi kader dan dakwah digital," ujar perwakilan delegasi Kandangan di sela-sela acara.

KOKAM Kandangan: Tegak Lurus Menjaga Marwah

Tak hanya jajaran pimpinan cabang, Komandan KOKAM Kandangan juga hadir mendampingi. Mengenakan seragam loreng khasnya, kehadiran KOKAM memberikan simbol bahwa pengawalan terhadap agenda ulama dan organisasi adalah harga mati.

Dalam Rapimda ini, peran KOKAM ditekankan bukan hanya sebagai satuan pengamanan fisik, tetapi juga sebagai unit respons cepat dalam kebencanaan dan kegiatan kemanusiaan di wilayah Temanggung. KOKAM Kandangan yang selama ini dikenal aktif dalam berbagai aksi sosial di wilayah utara Temanggung, mendapatkan apresiasi khusus dalam diskusi kelompok terpumpun di sela acara.

Dinamika Rapat di Pawon Aryo Gondo

Suasana di Pawon Aryo Gondo sejak pukul 07.30 WIB sudah tampak riuh namun tertib. Diskusi berlangsung hangat saat membahas laporan perkembangan cabang-cabang se-Kabupaten Temanggung. Pimpinan Daerah menekankan pentingnya revitalisasi ranting agar gerakan Pemuda Muhammadiyah tidak hanya berhenti di tingkat kabupaten atau kecamatan saja.

Ketua PDPM Temanggung, Sugiyono, dalam pidato pembukaannya mengingatkan bahwa tahun 2026 adalah tahun pembuktian bagi Pemuda Muhammadiyah untuk menjadi "Pemuda Negarawan". Ia menegaskan bahwa setiap kader harus memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni sekaligus militansi yang tinggi.

"Rapimda ini adalah kompas kita. Kita ingin memastikan bahwa seluruh gerak langkah PCPM, termasuk rekan-rekan dari Kandangan, tetap berada dalam koridor ideologi Muhammadiyah yang berkemajuan," tegas Sugiyono di hadapan para peserta.

Poin-Poin Utama Kesepakatan

Berdasarkan jalannya rapat, terdapat beberapa poin strategis yang menjadi catatan bagi PCPM Kandangan untuk dibawa pulang dan diterapkan di wilayahnya:

  1. Penguatan Kaderisasi: Melakukan pendataan ulang (database) anggota potensial di tingkat desa/ranting se-Kecamatan Kandangan.
  2. Kemandirian Ekonomi: Mendorong terciptanya unit usaha kreatif di tingkat cabang untuk menopang pendanaan kegiatan organisasi secara mandiri.
  3. Sinergi KOKAM: Meningkatkan frekuensi latihan gabungan (latgab) KOKAM antar cabang untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam di musim penghujan.
  4. Literasi Digital: Mengaktifkan media sosial cabang sebagai sarana syiar dakwah yang moderat dan mencerahkan bagi generasi Z.

Menatap Masa Depan

Acara berakhir menjelang siang dengan suasana kekeluargaan yang erat. Foto bersama antara pimpinan daerah dan seluruh utusan cabang menjadi penutup simbolis. Bagi PCPM dan KOKAM Kandangan, perjalanan pulang dari Manding kembali ke Kandangan membawa beban amanah yang lebih besar.

Dengan hasil Rapimda ini, diharapkan pemuda Muhammadiyah di Kandangan semakin solid, tidak hanya secara kuantitas, tetapi juga kualitas aksi nyata di masyarakat. Semangat yang dibawa dari Pawon Aryo Gondo diharapkan mampu menjadi bahan bakar baru untuk menggerakkan roda organisasi hingga ke sudut-sudut desa di Kandangan.

Sebagai penutup, seluruh peserta menggemakan semboyan kebanggaan: Fastabiqul Khoirot!—sebuah janji untuk selalu berada di garis terdepan dalam menebar manfaat bagi sesama.

TEMANGGUNG – Suasana pagi di wilayah Kecamatan Kandangan dan sekitarnya tampak lebih meriah dari biasanya pada Sabtu, 14 Februari 2026. Ratusan pasang mata warga berjajar di sepanjang jalan utama untuk menyaksikan iring-iringan Pawai Mobil Hias yang diselenggarakan oleh KB & TK ABA Tahfidz Al Ashr Temanggung. Kegiatan ini digelar dalam rangka menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan 1447 H yang tinggal menghitung hari.

Agar acara yang melibatkan belasan kendaraan dan ratusan siswa tersebut berjalan tertib, personel KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) Kandangan diterjunkan langsung untuk melakukan pengamanan dan pengaturan lalu lintas di sepanjang rute yang dilewati.

Sinergi Keamanan demi Kelancaran Syiar

Kegiatan pengamanan ini merupakan tindak lanjut dari permohonan resmi pihak sekolah kepada Pimpinan Daerah KOKAM Temanggung, yang kemudian didelegasikan kepada personel di tingkat cabang, khususnya KOKAM Kandangan, mengingat sebagian besar rute berada di wilayah hukum tersebut.

Komandan KOKAM yang bertugas di lapangan menyatakan bahwa keterlibatan mereka adalah bentuk pengabdian kepada persyarikatan dan masyarakat. “Tugas kami adalah memastikan adik-adik dari TK ABA dapat melaksanakan pawai dengan aman. Mengingat rute yang ditempuh cukup panjang dan melewati jalan raya yang ramai, kewaspadaan personel menjadi kunci utama,” ujarnya di sela-sela kegiatan.

Rute Panjang dan Antusiasme Peserta

Pawai dimulai tepat pukul 06.00 WIB dengan titik kumpul di Lapangan Maron. Sebanyak 14 kendaraan yang telah dihias dengan berbagai ornamen khas Islami, seperti replika masjid, tulisan kaligrafi, hingga dekorasi janur kuning, berbaris rapi siap menyapa warga.

Rute yang ditempuh meliputi jalur Kandangan – Kaloran – Geneng – Walitelon, dan berakhir kembali ke lapangan. Jalur ini dikenal memiliki titik-titik rawan kemacetan, terutama di persimpangan menuju Kaloran. Di sinilah peran vital personel KOKAM Kandangan terlihat. Mereka ditempatkan di setiap titik persimpangan untuk menghentikan kendaraan umum sesaat agar rombongan pawai dapat melintas tanpa terputus.

Anak-anak didik TK ABA Tahfidz Al Ashr tampak sangat antusias. Dari atas mobil hias, mereka melambaikan tangan sambil melantunkan shalawat dan lagu-lagu religi. Semangat “Syiar Ramadhan” benar-benar terasa di sepanjang jalan.

Apresiasi dari Pihak Sekolah

Elim Awalisa, S.Pd., selaku Penanggung Jawab kegiatan, menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam atas dedikasi personel KOKAM. Menurutnya, tanpa bantuan pengamanan yang terorganisir, akan sangat sulit mengelola 14 kendaraan besar di jalan raya dengan membawa anak-anak kecil.

“Kami sangat terbantu dengan kehadiran bapak-bapak KOKAM. Mereka tidak hanya menjaga lalu lintas, tapi juga membantu memastikan keselamatan anak-anak saat naik dan turun kendaraan. Kerja sama ini membuat kami merasa tenang dalam menyelenggarakan acara,” ungkap Elim.

Senada dengan itu, Kepala Sekolah TK ABA Tahfidz Al Ashr, Nur Wahidah, S.Pd., dalam keterangannya menyebutkan bahwa pawai mobil hias ini adalah agenda rutin untuk mengedukasi siswa mengenai kegembiraan menyambut bulan puasa. “Ramadhan harus disambut dengan suka cita. Dengan pengawalan KOKAM, kegembiraan ini dapat tersampaikan kepada masyarakat secara tertib tanpa mengganggu pengguna jalan lainnya,” tambahnya.

Kedisiplinan KOKAM dalam Bertugas

Personel KOKAM Kandangan yang bertugas terlihat sigap dengan seragam doreng khas mereka. Selain mengatur lalu lintas, mereka juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian setempat untuk memastikan seluruh prosedur keselamatan jalan raya terpenuhi. Kedisiplinan dan keramahan para personel saat menghadapi pengguna jalan yang sempat tersendat mendapatkan apresiasi positif dari warga sekitar.

Hingga acara berakhir pada siang hari, seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan aman, tertib, dan lancar tanpa ada kendala berarti. Rombongan kembali ke titik akhir dengan selamat, menandai kesiapan umat Muslim di wilayah Temanggung, khususnya keluarga besar Muhammadiyah, dalam menyongsong bulan penuh berkah, Ramadhan 1447 H.

Kegiatan ini membuktikan bahwa sinergi antara lembaga pendidikan ekonomi dan organisasi kepemudaan seperti KOKAM mampu menciptakan kegiatan syiar yang berkualitas, aman, dan berkesan bagi masyarakat luas.

KANDANGAN – Di bawah terik matahari yang mulai menyengat di kawasan Kandangan, deru semangat tidak surut dari wajah-wajah muda yang berkumpul di sebuah lahan produktif. Mengenakan seragam loreng khas yang gagah namun tak segan bersimbah peluh, puluhan anggota Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) bersama jajaran Pemuda Muhammadiyah Kandangan tampak sibuk bergelut dengan tanah.

Bukan sedang melakukan simulasi pengamanan atau latihan fisik militer, kali ini “senjata” yang mereka pegang adalah cangkul, mulsa, dan ribuan bibit tomat siap tanam. Kegiatan ini menandai langkah konkret organisasi dalam mewujudkan kemandirian ekonomi melalui sektor agribisnis.

Menanam Benih Kemandirian

Gerakan menanam tomat ini bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang. Bagi Pemuda Muhammadiyah Kandangan, lahan yang mereka kelola adalah laboratorium kewirausahaan. Selama ini, organisasi seringkali bergantung pada iuran anggota atau bantuan eksternal untuk menjalankan program kerja. Kini, paradigma itu mulai bergeser.

Ketua Pemuda Muhammadiyah setempat menegaskan bahwa sektor ekonomi harus menjadi pilar utama jika organisasi ingin tetap relevan dan berdaya ledak tinggi.

“Kami ingin membuktikan bahwa Pemuda dan KOKAM tidak hanya pandai berbaris atau menjaga keamanan acara saja. Kami juga harus pandai membaca peluang pasar dan mengelola aset bumi. Menanam tomat adalah langkah awal kami menuju kemandirian finansial organisasi,” ujarnya di sela-sela penanaman.

Mengapa Tomat?

Pemilihan komoditas tomat bukanlah tanpa alasan yang matang. Melalui riset kecil-kecilan dan diskusi dengan praktisi pertanian lokal, tomat dipilih karena beberapa faktor strategis:

  • Masa Panen yang Relatif Cepat: Tomat hanya membutuhkan waktu sekitar 60-90 hari untuk mulai panen, sehingga perputaran modal organisasi bisa berjalan lebih dinamis.
  • Permintaan Pasar Tinggi: Sebagai kebutuhan dapur pokok, serapan pasar di wilayah Kandangan dan sekitarnya tergolong stabil.
  • Pemanfaatan Lahan Optimasi: Karakteristik lahan yang dikelola sangat cocok dengan varietas tomat yang dipilih, yang memiliki daya tahan kuat terhadap hama lokal.

Sinergi KOKAM: Dari Keamanan ke Ketahanan Pangan

Keterlibatan KOKAM dalam aksi ini memberikan warna tersendiri. KOKAM yang selama ini dikenal sebagai garda terdepan dalam urusan kemanusiaan dan kebencanaan, kini menunjukkan sisi humanis dan produktifnya di bidang ketahanan pangan.

Instruksi untuk terjun ke sawah ini disambut antusias. Anggota KOKAM tidak hanya menyumbangkan tenaga kasar, tetapi juga terlibat dalam sistem manajemen pengairan dan penjagaan lahan dari gangguan hama maupun faktor eksternal lainnya. Ini adalah bentuk implementasi dari profil kader yang tangguh secara fisik, namun juga cerdas secara ekonomi.

Harapan Besar di Sektor Wirausaha

Output yang diharapkan dari proyek ini sangat jelas: Profitabilitas yang berkelanjutan. Hasil penjualan panen tomat nantinya akan masuk ke dalam kas bidang ekonomi dan kewirausahaan. Dana tersebut diproyeksikan untuk membiayai kegiatan dakwah, pelatihan kepemimpinan, hingga pemberian beasiswa bagi kader yang membutuhkan.

Lebih dari sekadar uang, kegiatan ini adalah sarana edukasi on-the-job training bagi para pemuda. Mereka belajar tentang:

  1. Manajemen Risiko: Bagaimana menghadapi cuaca yang tidak menentu.
  2. Analisis Biaya: Menghitung modal bibit, pupuk, hingga proyeksi keuntungan.
  3. Pemasaran: Bagaimana membangun jejaring dengan tengkulak maupun pasar retail modern secara mandiri.

Langkah Menuju Masa Depan

Jika proyek percontohan (pilot project) ini berhasil, Pemuda Muhammadiyah Kandangan berencana mengekspansi lahan mereka dengan komoditas lain seperti cabai atau sayuran organik. Mereka bermimpi suatu saat nanti memiliki “Brand Pertanian Pemuda” yang mampu memasok kebutuhan sayur-mayur di pasar-pasar lokal secara konsisten.

“Kami ingin menciptakan ekosistem di mana pemuda tidak lagi merasa gengsi untuk bertani. Bertani dengan cara modern, terukur, dan menghasilkan secara finansial adalah jalan ninja kami dalam berdakwah di sektor ekonomi,” tambah salah satu koordinator lapangan KOKAM.

Aksi nyata di Kandangan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kedaulatan sebuah bangsa—dan organisasi—dimulai dari apa yang ditanam di tanahnya sendiri. Saat bibit-bibit tomat itu mulai berakar, di sana pulalah harapan akan kemandirian ekonomi pemuda mulai tumbuh bersemi.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.